Ilustrasi : Edi Wahyono
Rabu, 16 September 2026Sinyal salah satu nomor telepon dari lima pewarta foto dan tiga kru yang berada di speedboat Arupadhatu 1 sempat terdeteksi di Pulau Sebesi, Lampung. Informasi itu diterima tim SAR pada hari kedua pencarian, Rabu, 9 September 2026. Namun, ketika pulau itu disisir, keberadaan delapan orang tersebut belum juga diketahui.
“Tidak terdeteksi harinya. Cuma dia menyatakan real time posisi nomor tersebut ada di Sebesi,” kata Kepala Kantor SAR Banten Al Amrad kepada detikX saat ditemui di posko SAR di Pandeglang pada Jumat, 11 September 2026.
Lima pewarta foto yang hilang adalah M Bagus Khoirunnas dari Antara, Arie Basuki dari Merdeka, Yudistiro Pranoto dari iNews, Firman Daus dari Anadolu Agency, dan Donal Husni seorang jurnalis lepas. Sedangkan tiga ABK adalah Warta sebagai kapten, Surakman sebagai ABK, dan Heriyanto sebagai pemandu.
Sinyal di Sebesi menjadi salah satu titik yang diperiksa tim SAR. Namun informasi itu belum berarti nomor tersebut masih aktif atau pemiliknya berada di pulau tersebut. Bisa saja false signal atau deteksi yang tidak valid.
Kabid Humas Polda Banten Kombes Maruli Ahiles Hutapea menjelaskan yang dilacak bukan posisi ponsel secara real time atau monitoring terkini, melainkan pancaran terakhir saat perangkat tersebut masih menyala.
“Intinya bahwa, biar kita tidak salah ya, bahwa handphone (jurnalis dan kru kapal yang hilang) itu menyala itu di komunikasi terakhir itu,” kata Maruli kepada detikX.
Pancaran terakhir itu terjadi pada Senin, 7 September 2026, sebelum rombongan yang menuju Gunung Anak Krakatau tersebut hilang kontak. Setelah itu, tidak ada lagi ponsel yang aktif maupun komunikasi dengan keluarga.
“Setelah itu kita sudah lost contact dengan keluarganya. Mereka sudah lost contact. Karena lost contactitulah, mereka (rekan dan kerabat korban) mendatangi posko, posko pencarian,” ujarnya.
Selain itu, jejak terakhir rombongan menuju Anak Krakatau ini berada di 6°14'40.52"S 105°40'49.48"T. Titik koordinat itu didapatkan dari salah satu pewarta foto yang mengirimkan lokasi terkini kepada rekannya yang berakhir pukul 14.42 WIB. Titik itu berada sekitar 20 kilometer dari pantai Jawa (Banten) dan sekitar 30 km dari Pulau Rakata (Krakatau).
Titik itu menjadi dasar penyisiran awal tim SAR gabungan, yang dikomandoi Basarnas. Zona pencarian terus diperluas. Tim menghitung kemungkinan pergerakan objek di laut dengan melihat arus, angin, dan gelombang.
Operasi pencarian dimulai sejak Selasa, 8 September 2026. Informasi mengenai Arupadhatu 1 diterima Kantor SAR Banten pukul 13.55 WIB. Dua puluh menit kemudian, satu unit kapal bergerak mengikuti rute menuju Gunung Anak Krakatau.
Penyisiran pertama berakhir tanpa hasil. Kapal kembali ke posko sekitar pukul 18.15 WIB.
Malam harinya, KN SAR Tetuka bergerak dari Dermaga Bandar Bakau Jaya menuju sekitar lokasi kejadian. Kapal itu kembali dan bersandar di Ciwandan pada pukul 21.42 WIB.
Hasil pencarian hari pertama membuat tim memperluas area operasi. Angkatan Laut, Polair, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP), masyarakat, Kantor SAR Banten, hingga Kantor SAR Lampung juga digerakkan.
Jumlah kapal bertambah dari 11 pada Kamis menjadi 12 pada Jumat. Pulau Krakatau Besar, Pulau Panjang, Pulau Sertung, hingga Pulau Sebesi juga masuk dalam wilayah penyisiran.
Tim menggunakan SAR map prediction untuk memperkirakan pergerakan objek di laut. Perhitungan itu memasukkan arah angin, arus, dan gelombang.
“Termasuk pergeseran arus, angin, gelombang,” kata Amrad menjelaskan dasar penyusunan peta prediksi tersebut.
Pencarian dari udara juga dilakukan. Pada Kamis, helikopter menyisir dari sisi timur Gunung Anak Krakatau menuju barat. Kabut membuat jarak pandang terbatas, sementara aktivitas gunung yang masih berlangsung membuat helikopter tak bisa mendekat.
Baca Juga : Mereka yang Masih Hilang dan Diharapkan Pulang

Untuk pencarian malam, tim menyebarkan informasi kepada instansi yang memantau jalur pelayaran. Informasi itu disampaikan kepada KSOP, worldwide threat to shipping (WTS), Polair, terminal sektor, dan instansi lain yang memantau pergerakan kapal.
Ujung Kulon hingga wilayah antara Lampung dan Banten juga sudah disisir. Kondisi cuaca menjadi salah satu tantangan karena arah angin dan gelombang dapat berubah sepanjang hari. Namun mereka belum menemukan jejak yang berarti.
Jejak yang Buram
Setelah beberapa hari penyisiran, jejak pertama muncul berupa berbagai benda-benda yang ditemukan mengapung di lautan. Pada Kamis, 10 September 2026, hari ketiga pencarian, KAL Anyer bersama tim SAR menemukan life jacket tanpa identitas di perairan barat Anyer, sekitar Cikoneng-Labuan.
Sehari kemudian, Jumat, 11 September 2026, pelampung oranye kembali ditemukan KAL Anyer di sisi timur Anak Krakatau. Keduanya kemudian diperiksa untuk memastikan keterkaitannya dengan kapal yang hilang.
Hasil pemeriksaan menunjukkan pelampung tersebut bukan perlengkapan Arupadhatu 1. Rompi pelampung tersebut memakai ritsleting, sedangkan Arupadhatu 1 hanya menyediakan life jacket berkancing klip.
“Bahwa hasil pemeriksaan maupun interogasi kepada Bapak Sandi selaku pemilik kapal karena pemilik kapal ada dua kapal, ada Arupadhatu 1 maupun Arupadhatu II, tidak menggunakan life jacket seperti yang ditemukan. Jadi bukan merupakan milik kapal Arupadhatu 1 yang sampai sekarang belum ditemukan,” kata Kapolda Banten Irjen Hengky dikutip dari detikcom.
Temuan lain bermunculan ketika wilayah pencarian semakin lebar. Pada Sabtu, 12 September, KN SAR Tetuka menemukan jeriken biru, helm merah, dan dua life jacket oranye bertulisan “MILLES.II” di sekitar perairan Pulau Rakata.
Barang-barang itu kemudian dicocokkan dengan perlengkapan KM Arupadhatu 1. Hasilnya, Polda Banten memastikan jeriken, helm, dan dua life jacket tersebut bukan milik kapal yang membawa lima jurnalis dan tiga ABK itu.
Sehari berikutnya, temuan kembali muncul di sejumlah sektor. Tim menemukan life jacket, dua terpal, dan sebuah galon. Barang-barang itu sempat diperiksa lebih lanjut karena belum langsung diketahui asalnya.
Hasil pendalaman Polda Banten kemudian memastikan tiga life jacket, dua terpal, dan galon yang ditemukan pada hari keenam juga bukan milik rombongan.

Sejumlah jurnalis mengikuti doa bersama di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, Jumat (11/9/2026). Kegiatan yang digelar oleh Pewarta Foto Indonesia (PFI) Jakarta tersebut menjadi bentuk solidaritas sekaligus ikhtiar untuk mendoakan lima jurnalis dan tiga kru kapal yang hingga kini masih berstatus hilang saat berada di perairan Selat Sunda, sekitar Gunung Anak Krakatau.
Foto : Pradita Utama/detikFoto
Pada Sabtu, 12 September 2026, temuan lebih serius dilaporkan dari Pulau Enggano, Bengkulu. Seorang laki-laki tanpa identitas ditemukan di pesisir Sawang Bengkok, Desa Khayapu. Di wilayah tersebut, tak ada seorang pun yang memberikan laporan kehilangan keluarganya.
“Untuk identitas korban dan penyebab kematian masih dalam proses penanganan serta pendalaman oleh pihak terkait,” kata pejabat Humas Basarnas Bengkulu Mega Silva dikutip dari detikcom.
Jenazah itu diterbangkan dari Enggano ke Bengkulu pada Senin, 14 September 2026, pagi untuk diautopsi. Data antemortem keluarga delapan orang yang hilang kemudian dikirim Polda Banten ke Polda Bengkulu untuk pencocokan DNA.
Namun pemeriksaan awal tidak menunjukkan kecocokan dengan data delapan orang yang dicari. Pakaian dalam yang dikenakan jenazah juga berbeda dari data yang dimiliki tim forensik.
“Tidak ada penyesuaian dengan data AM (antemortem) jenazah dengan (rombongan) jurnalis,” kata dokter forensik RS Bhayangkara Banten, dr Donald Rinaldi Kusumaningrat, dikutip dari detikcom.
Pemeriksaan DNA tetap dilanjutkan. Sampel keluarga delapan orang yang hilang dibandingkan dengan DNA jenazah di Polda Bengkulu, dengan hasil diperkirakan membutuhkan waktu hingga sepekan.
Untuk sementara, jenazah di Enggano itu belum membawa kejelasan. Begitu pula pelampung, jeriken, helm, terpal, dan galon yang ditemukan selama pencarian. Tak satu pun terkonfirmasi berkaitan dengan Arupadhatu 1.
Memasuki Selasa, 15 September, pencarian masih berlanjut. Sebanyak 18 kapal dan 1 helikopter dikerahkan dengan area pencarian sekitar 6.649 mil laut persegi. Tim bahkan mendekat hingga sekitar 500 meter dari Anak Krakatau, tetapi delapan orang yang dicari belum ditemukan.
Sementara itu, keluarga masih menanti kabar dari proses pencarian yang memasuki hari kesembilan. Mansur, ayah Bagus Khoirunnas, wartawan foto LKBN Antara, berharap anaknya segera ditemukan dalam kondisi selamat.
“Harapan saya satu saja ya, ditemukanlah dalam kondisi ya sehat. Ya kita berdoa, yang terbaik,” kata Mansur kepada detikX.
Reporter: Ani Mardatila, Ahmad Thovan Sugandi, Fajar Yusuf Rasdianto, Melanie Hotarina Margaret Sihotang (magang)
Penulis: Ani Mardatila
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Fuad Hasim