Ilustrasi : Edi Wahyono
Selasa, 2 Juli 2024Tidak sulit menemukan mesin penyejuk udara atau AC rendah efisiensi di toko-toko elektronik dan interior di Jakarta. Dari 10 toko yang detikX kunjungi pekan lalu, semuanya menjual AC dengan efisiensi rendah atau tidak hemat energi. Beberapa toko bahkan mempromosikan AC rendah efisiensi itu dengan label best seller. Sebagian toko lainnya yang tidak memberi label best seller, ketika ditanya mana produk AC paling laris, akan langsung menunjuk AC berefisiensi rendah.
“Secara harga, yang paling terjangkau sih. Garansinya juga lama, kan 10 tahun,” kata seorang karyawan ritel elektronik di kawasan Jakarta Barat kepada detikX pada Sabtu, 29 Juni lalu.
Sejumlah penjual produk elektronik yang detikX wawancarai menyebut sebagian besar AC rendah efisiensi tersebut merupakan produk impor dari China. Barang-barang impor itu menggunakan jenama perusahaan lokal dan multinasional asal Jepang dan Korea Selatan. Hampir semua AC impor ini juga sudah menggunakan label tanda hemat energi (LTHE) serta mengklaim menerapkan Standar Kinerja Energi Minimum (SKEM) bintang 1, 2, dan 3 yang diterapkan pemerintah.
Secara aturan, barang-barang impor tersebut sebetulnya sudah masuk dalam kategori AC hemat energi. Namun dengan standar efisiensi paling rendah.
Aturan standar hemat energi ini tertuang dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 103.K/EK.07/DJE/2021 tentang SKEM dan LTHE untuk AC. AC yang boleh diproduksi dan dijual di Indonesia minimal memiliki standar LTHE bintang 1. Standar minimum itu paling tidak memiliki koefisien cooling seasonal performance factor (CSPF) alias standar energi yang harus dibayar konsumen setara 3,1-3,4 watt per watt (W/W).
Standar efisiensi energi ini lebih rendah dari negara pengimpor AC besar, yaitu China. Di Negeri Tirai Bambu, AC dengan CSPF 3,1-3,4 W/W sudah tidak lagi digunakan. Mereka punya standar CSPF yang lebih tinggi, yakni 6,1 W/W.
Studi lembaga nonprofit asal Amerika Serikat, CLASP, menyebut aturan ini membuat Indonesia menjadi sasaran empuk pembuangan AC rendah efisiensi dari China. Terbukti, dari total 6,2 juta penjualan AC rendah efisiensi pada 2021, sekitar 37 persen atau 2,3 juta di antaranya terjual di Indonesia. Sekitar 88 persen dari AC rendah efisiensi itu merupakan impor negara-negara non-ASEAN, termasuk China, Jepang, Korea Selatan, dan Amerika Serikat. Sisanya, 12 persen merupakan produksi dalam negeri.
“Jumlah ini setara dengan 97 persen total penjualan AC di Indonesia (pada 2021),” temuan CLASP dalam studi berjudul ‘Pathways to Prevent Dumping of Climate Harming Room Air Conditioners in Southeast Asia’.
Setelah riset itu keluar, pemerintah melalui Kementerian ESDM memperbarui aturan SKEM dan LTHE untuk AC. Payung hukum itu tertuang dalam Kepmen ESDM Nomor 134.K/EK.07/DJE 2023, yang menghapus standar minimum CSPF AC dari 3,1-3,4 W/W menjadi 3,4-3,8 W/W. Dengan kata lain, pemerintah membatasi produksi dan impor AC dari semula LTHE bintang 1 menjadi bintang 2. Aturan ini baru akan berlaku pada November 2024.
Selama proses tunggu itu, impor AC—terutama dari China—terus membanjiri pasar Indonesia. Data Laporan Surveyor (LS) pada 2023 menunjukkan impor AC ke Indonesia mencapai 3.803.526 unit. Hampir dua kali lipat lebih tinggi dari tahun sebelumnya yang hanya 1.994.476 unit.
Di sisi lain, Kementerian Perindustrian mencatat produksi AC pada periode yang sama hanya 748.158 (2022) dan 1.158.016 unit (2023). Tidak sampai separuh dari produk AC impor.
Jika menggunakan asumsi yang sama dengan riset CLASP, diperkirakan ada total 2,7 juta dan 4,8 juta AC rendah efisiensi yang beredar di Indonesia pada 2022 dan 2023. Sekitar 2,4 juta AC rendah efisiensi pada 2022 merupakan produk impor. Sedangkan pada 2023, jumlahnya mencapai 4,2 juta unit.
Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Elektronik Daniel Suhardiman mengakui pasar AC di Indonesia masih didominasi oleh AC impor berefisiensi rendah. Itu karena persyaratan efisiensi energi untuk impor AC masih menggunakan standar yang sama dengan AC produk lokal.
Ini membuat pemegang lisensi merek AC di Indonesia lebih senang mengimpor produknya dari luar negeri, khususnya China. Sebab, kecenderungan harga AC yang diimpor dari China selalu lebih murah 15-20 persen dibandingkan produk lokal.
Baca Juga : Jalan Terjal Menuju Pasar AC Efisien

“Tiongkok itu jagoannya dumping karena dapat dukungan dari pemerintahnya melalui bentuk export tax rebate (potongan pajak ekspor) sampai 13 persen,” ungkap Daniel saat dihubungi detikX pekan lalu.
Sekretaris Jenderal Perusahaan Pendingin Refrigerasi Indonesia Andy Wijaya—yang sebagian besar anggotanya merupakan importir AC—menolak jika dikatakan Indonesia sebagai tong sampah AC produksi luar negeri. Menurutnya, semua AC impor yang masuk ke Indonesia sudah sesuai standar yang diatur pemerintah. AC dengan standar efisiensi yang rendah itu dipesan lantaran menjadi yang paling banyak diminati masyarakat Indonesia.
Berdasarkan riset Growth from Knowledge (GfK), sekitar 87,5 persen dari sekitar 3 juta unit AC yang terjual di Indonesia pada 2023 merupakan tipe AC non-inverter. Tipe AC ini biasanya memiliki level SKEM bintang 1-3. Sedangkan sisanya, 12,5 persen, merupakan AC inverter dengan standar SKEM bintang 4-5.
“Jadi kami keberatan kalau Indonesia dikatakan sebagai dumping. Karena produsen di China itu memproduksi by order. Sesuai dengan yang kita pesan. Jadi nggak ada overstock di China terus dibuang ke Indonesia,” jelas Andy.
Tingginya permintaan AC berefisiensi rendah ini akhirnya menjadi dalih Kementerian ESDM mematok standar SKEM dan LTHE yang juga rendah untuk produk AC lokal maupun impor. Koordinator Pengawasan Konversi Energi Ditjen Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Endra Dedy Tamtama mengatakan standar SKEM dan LTHE juga mengikuti kemampuan produsen AC lokal yang saat ini baru mampu memproduksi rata-rata AC dengan CSPF 3,7 W/W ke bawah atau lebih rendah dari standar ASEAN.
“Pelan-pelan kami naikkan standarnya kalau produsen lokalnya sudah mampu. Nanti akan kami lakukan riset lagi untuk pertimbangan,” ungkap Endra pekan lalu.
Program Manager CLASP Nanik Rahmawati mengatakan daya beli masyarakat sering menjadi dalih produsen untuk menjual produk AC dengan efisiensi rendah. Namun, berdasarkan hasil studi residential end-user survey CLASP, konsumen AC di Indonesia rata-rata adalah kalangan ekonomi menenggah ke atas. Sehingga harga tidak menjadi alasan.
Toh, harga AC rendah efisiensi dengan yang tinggi efisiensi tidak berbeda jauh. Berdasarkan riset CLASP di lokapasar Shopee, Tokopedia, dan Selka, harga AC dengan SKEM bintang 1-4 masih berada di kisaran Rp 3-4 juta.
Demikian juga dengan kemampuan produksi. Faktanya, penelusuran detikX melalui laman simebtke.esdm.go.id, dari total 1.539 tipe AC yang beredar di Indonesia, 65 persennya atau 1.006 tipe justru merupakan AC dengan level SKEM bintang 4.
Dengan data ini, seharusnya pemerintah Indonesia berani menaikkan level SKEM dan LTHE-nya ke standar yang lebih tinggi. Sebab, jika tidak, Indonesia bakal terus menjadi dumping AC dari negara yang punya standar SKEM lebih tinggi.
“Kalau begini terus, masyarakat mau tidak mau memilih AC yang rendah efisiensi karena stoknya di pasar yang paling banyak itu,” jelas Nanik.
Kondisi ini akan membuat target Indonesia mencapai target nol emisi pada 2060 semakin sulit. Sebab, AC diidentifikasi sebagai peralatan elektronik rumah tangga dengan persentase konsumsi listrik terbesar, yakni 958 GWh per tahun per persentase penetrasi. Emisi karbon yang dihasilkan bahkan mencapai 2,25 megaton CO2e pada 2022.
Situasi ini akan berbeda seandainya saja Indonesia sudah menerapkan standar SKEM dengan level bintang lebih tinggi. Misal saja, minimal bintang tiga-lima, maka emisi karbon pada tahun yang sama hanya akan mencapai 0,81 megaton CO2e atau turun 63 persen. Menurut survei CLASP, penggunaan barang elektronik, termasuk AC, yang ramah energi bakal mengurangi emisi hingga 39 persen lebih.
Reporter: Fajar Yusuf Rasdianto, Alya Nurbaiti
Penulis: Fajar Yusuf Rasdianto
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Fuad Hasim