Hasil penghitungan sementara Komisi Pemilihan Umum (KPU) maupun hasil quick count yang dilakukan beberapa lembaga, menunjukkan pasangan calon presiden SBY-Boediono jauh mengungguli dua pasangan calon lainnya. Perolehan sementara mereka mencapai 60% suara, sehingga Pemilu Presiden yang kedua ini hanya berlangsung satu putaran.
Hasil Pemilu Presiden 2009 sementara ini kian mempertegas, pengaruh partai politik semakin menurun dalam pemberian dukungan suara buat calon presiden.
Di satu sisi, hal ini ditunjukkan oleh keberhasilan Tim Sukses SBY-Boediono meski tanpa keterlibatan partai-partai pendukung; di sisi lain, juga ditunjukkan oleh anjloknya perolehan suara JK-Wiranto yang tidak sebanding dengan perolehan Partai Golkar dan Partai Hanura pada Pemilu Legislatif.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pertama, hal ini terlihat pada tingginya jumlah pemilih yang tidak mengikuti pemungutan suara. Kedua, semua partai politik mapan, seperti PDIP, Partai Golkar, dan PPP, termasuk PAN dan PKB, mengalami penurunan persentase suara signifikan. Ketiga, kemenangan Partai Demokrat dipercaya bukan karena kinerja partai, tetapi lebih karena figur SBY.
Terus menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap partai politik tentu akan menimbulkan masalah besar bagi demokratisasi di Indonesia. Sebab, dalam kajian akademis maupun praktek di banyak negara, partai politik punya peran signifikan dalam proses demokrasi, baik pada tingkat prosedural maupun substansial.
Fungsi partai politik dalam agregasi dan artikulasi kepentingan, pendidikan politik, sosialisasi politik, maupun formulasi agenda politik berpengaruh terhadap proses demokrasi substansial.
Sedangkan fungsi seleksi pejabat publik dan mobilisasi dalam pemilu berpengaruh langsung terhadap proses demokrasi prosedural. Singkatnya, partai politik punya peran sentral dalam konsolidasi demokrasi atau pendalaman demokrasi.
Masalahnya, apakah elit partai politik benar-benar menyadari partai politik yang dipimpinnya semakin tidak dipercayai masyarakat? Apakah mereka menyadari situasi seperti ini bila terus berlangsung akan membawa partai politik ke ambang kemusnahan?
Tentu para elit tahu, dari pemilu ke pemilu, dukungan rakyat terus menurun. Mereka juga merasakan betapa kerasnya kritik masyarakat terhadap keberadaan organisasi yang dipimpinnya.
Namun saya meragukan, mereka menyadari apa yang terjadi. Yang saya maksud dengan menyadari adalah, munculnya rencana aksi untuk mengubah keadaan, dari situasi yang membahayakan menuju ke situasi yang berpengharapan.
Gejala menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap partai politik sudah muncul sejak lima tahun lalu, dan dipertegas kembali pada Pemilu 2009 ini. Tapi tampaknya elit politik masih enjoy saja dengan apa yang terjadi, mereka terus menikmati posisi keelitannya.
*) Didik Supriyanto adalah Ketua Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem)
(diks/iy)











































