Tentu angka tersebut jauh dari harapan, karena daftar pemilih tetap (DPT) saja terdapat 171,2 juta orang; sedang jumlah TPS mencapai 519 ribu. Kalau dihitung-hitung, pencapaian TNP Pemilu 2009 selama 10 hari pascapemungutan suara hanya 6%. Ini beda jauh dengan TNP Pemilu 2009 yang pada hari ketiga saja sudah mencapai lebih dari 10%.
Fakta ini menunjukkan bahwa kinerja KPU dalam penyelenggaraan Pemilu Legislatif 2009 ini benar-benar parah. Jika diurut-urut: pendaftaran pemilih amburadul, penghitungan jumlah caleg tidak akurat, jadwal kampanye berubah-ubah, surat suara salah cetak dan salah kirim, penghitungan suara lambat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kedua fungsi tersebut, untungnya sudah digantikan dengan baik oleh quick count yang dilakukan oleh empat lembaga survei, sehingga masyarakat tidak begitu penasaran lagi tentang hasil pemilu. Elit partai pun berani ancang-ancang dan melakukan lobi-lobi politik menjelang Pemilu Presiden.
Coba bayangkan betapa bingungnya elit politik jika mereka tidak mempunyai angka pegangan dalam melakukan lobi-lobi politik. Angka pegangan semantara ini penting, karena hasil pemilu legislatif akan menentukan pencalonan dalam Pemilu Presiden.
Yang jadi masalah, quick count yang mengambil sampel antara 2.000 sampai 3.000 TPS tersebut, belum tentu menggambarkan hasil perolehan suara yang sebenarnya, yang terdiri dari 59 ribu TPS. Jika lembaga survei itu salah menentukan sampel, maka hasilnya juga bisa jauh dari kenyataan nanti.
Namun quick count yang dilakukan oleh empat lembaga survei rupanya menghasilkan perolehan suara yang hampir sama, sehingga hal ini mengurangi keragu-raguan elit politik atas hasil quick count.
Inilah keberuntungan KPU yang didapatkan dari lembaga-lembaga survei, meskipun TNP Pemilu 2009 tidak berjalan. Bayangkan kalau tidak ada quick count! Rasa penasaran masyarakat akan hasil pemilu, pasti akan merepotkan KPU. Dan yang paling merepotkan adalah menampung luapan kemarahan elit partai yang bingung karena tidak punya pegangan untuk berancang-ancang dalam Pemilu Presiden.
(diks/iy)











































