Kali Ini KPU Diselamatkan Lembaga Survei

Kali Ini KPU Diselamatkan Lembaga Survei

- detikNews
Senin, 20 Apr 2009 09:37 WIB
Kali Ini KPU Diselamatkan Lembaga Survei
Jakarta - Setelah berkelat-kelit tentang lambannya pergerakan perolehan suara, KPU akhirnya menutup Tabulasi Nasional Pusat (TNP) Pemilu 2009, Senin (20/4/2009) ini. TNP Pemilu 2009 yang dipusatkan di Hotel Borobudur, Jakarta, itu baru mencatat perolehan suara sementara 11,5 juta berasal dari 50 ribuan tempat pemungutan suara (TPS).

Tentu angka tersebut jauh dari harapan, karena daftar pemilih tetap (DPT) saja terdapat 171,2 juta orang; sedang jumlah TPS mencapai 519 ribu. Kalau dihitung-hitung, pencapaian TNP Pemilu 2009 selama 10 hari pascapemungutan suara hanya 6%. Ini beda jauh dengan TNP Pemilu 2009 yang pada hari ketiga saja sudah mencapai lebih dari 10%.

Fakta ini menunjukkan bahwa kinerja KPU dalam penyelenggaraan Pemilu Legislatif 2009 ini benar-benar parah. Jika diurut-urut: pendaftaran pemilih amburadul, penghitungan jumlah caleg tidak akurat, jadwal kampanye berubah-ubah, surat suara salah cetak dan salah kirim, penghitungan suara lambat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jika penghitungan suara lewat jalur IT yang diwadahi dalam kegiatan TNP, itu lambat, tentu tidak mendapatkan banyak masalah. Sebab, penghitungan suara lewat jalur IT ini fungsinya sekadar memenuhi hasrat ingin tahu masyarakat akan hasil pemilu secara nasional, selain bertujuan untuk mengontrol penghitungan manual.

Kedua fungsi tersebut, untungnya sudah digantikan dengan baik oleh quick count yang dilakukan oleh empat lembaga survei, sehingga masyarakat tidak begitu penasaran lagi tentang hasil pemilu. Elit partai pun berani ancang-ancang dan melakukan lobi-lobi politik menjelang Pemilu Presiden.

Coba bayangkan betapa bingungnya elit politik jika mereka tidak mempunyai angka pegangan dalam melakukan lobi-lobi politik. Angka pegangan semantara ini penting, karena hasil pemilu legislatif akan menentukan pencalonan dalam Pemilu Presiden.

Yang jadi masalah, quick count yang mengambil sampel antara 2.000 sampai 3.000 TPS tersebut, belum tentu menggambarkan hasil perolehan suara yang sebenarnya, yang terdiri dari 59 ribu TPS. Jika lembaga survei itu salah menentukan sampel, maka hasilnya juga bisa jauh dari kenyataan nanti.

Namun quick count yang dilakukan oleh empat lembaga survei rupanya menghasilkan perolehan suara yang hampir sama, sehingga hal ini mengurangi keragu-raguan elit politik atas hasil quick count.

Inilah keberuntungan KPU yang didapatkan dari lembaga-lembaga survei, meskipun TNP Pemilu 2009 tidak berjalan. Bayangkan kalau tidak ada quick count! Rasa penasaran masyarakat akan hasil pemilu, pasti akan merepotkan KPU. Dan yang paling merepotkan adalah menampung luapan kemarahan elit partai yang bingung karena tidak punya pegangan untuk berancang-ancang dalam Pemilu Presiden.
(diks/iy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads