“Indonesia mampu menunjukkan kepada dunia prestasi gemilang penyelenggaraan pemilu yang begitu aman, tertib, damai, jujur dan adil pada 2004,” kata Presiden SBY saat menyambut hari pertama kampanye, Senin (16/3/2004) kemarin. Ia berharap, keberhasilan itu berlanjut pada Pemilu 2009.
Bahwa SBY adalah presiden pertama yang dipilih secara langsung oleh rakyat secara demokratis, kita sudah tahu. Bahwa presiden gemar membanggakan Pemilu 2004 kepada pemimpin manca negara, kita juga sudah tahu. Nah, kalau kini presiden menjadikan Pemilu 2004 sebagai ’standar’ untuk kesuksesan Pemilu 2009, tentu barang baru.
Pernyataan presiden itu tentu saja dimaksudkan untuk memicu kinerja penyelenggara Pemilu 2009, agar jangan sampai kalah dengan penyelenggara sebelumnya. Sungguh tidak enak dibanding-bandingkan, namun justru karena itu harus ditekankan, bila perlu berulang-ulang. Perasaan tidak mau kalah akan meningkatkan semangat dalam bekerja.
Padahal, seakan sudah menjadi rahasia umum, Presiden SBY sesungguhnya tidak terlalu happy dengan KPU penyelenggara Pemilu 2004. Konon, ia termakan oleh bisikan pembantu-pembantunya, bahwa KPU yang lalu mendukung calon lain pada saat pemilu presiden. Meskipun akhirnya dia terpilih juga, bukan berarti bisikan itu menghilang.
Tentu susah untuk mengkonfirmasi kebenaran berita tersebut. Namun sikap presiden yang tidak segera menerima KPU pasca-Pemilu 2004 seakan membenarkan berita itu. Malah di lingkungan Sekretariat Jenderal KPU, banyak staf percaya bahwa pengadilan terhadap sejumlah anggota dan staf KPU merupakan pesanan istana.
Sepertinya tidak masuk akal, teori konspiratif itu. Tapi akal sehat kita juga tak bisa menerima: bagaimana mungkin orang setingkat Prof. Dr. Ramlan Surbakti (guru besar Fisip Unair, anggota Panwas Pemilu 1999, Wakil Ketua KPU 2004), tidak bisa menjadi anggota KPU kembali, hanya karena gagal psikotes.
Kemarin SBY memberi pesan-pesan kepada KPU dan Bawaslu agar Pemilu 2009 berhasil meneruskan kisah sukses Pemilu 2004. Namun SBY tidak menyebut-nyebut bagaimana sepak terjang penyelenggara Pemilu 2004. Seakan Pemilu 2004 sukses tanpa aktor penyelenggara. Ya, mungkin tak cukup waktu untuk menyebutnya.
Tidak apa, yang penting adalah bagaimana Pemilu 2009 bisa sesukses Pemilu 2004. Itu artinya, jika KPU dan jajarannya bisa menyelenggarakan Pemilu 2009 sesukses Pemilu 2004, itu sudah berhasil. Artinya juga, tak perlu terobsesi meningkatkan kualitas pemilu sekarang dari pemilu sebelumnya.
Pesan presiden cukup realistis, karena sampai sejauh ini, nyaris belum ada nilai bagus tahapan-tahapan pemilu yang sudah dikerjakan KPU: pendaftaran pemilih menghasilkan DPS/DPT amburadul; pendaftaran peserta pemilu diwarnai aksi jual beli penilaian sehingga peserta bengkak; pencalonan anggota legislatif datanya awut-awutan sehingga sulit diakses; dan terakhir jadwal kampanye terbuka diubah tiba-tiba sehingga berpotensi menimbulkan kerusuhan.
Panggung kampanye damai di Kemayoran yang jadi ajang keributan, menjadi peringatan buat KPU: tidak gampang mengurus kampanye! (diks/iy)











































