Sekitar satu bulan lalu, secara kebetulan saya bertemu dengan rombongan anggota Komisi II DPR di sebuah
restoran di dalam Bandara Hassanudin, Makassar. Mereka hendak melakukan kunjungan kerja ke Sulawesi Tengah; sedang saya baru saja tiba dari Papua Barat dan hendak kembali ke Jakarta.
"Bagaimana ini, pemilunya jadi atau tidak?" seru seorang anggota Dewan setelah bertegur sapa. "Iya nih, kok semuanya belum jelas. Banyak peraturan belum dibikin. Sosialisasi tidak ada. Tadinya bilang dana belum turun, ini sudah turun kok tidak ada kemajuan," kata yang lain.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ya sih, siapa tak suka masa kerja diperpanjang. Tapi, benar ini, kenapa kok bisa begini. Kita semua jadi khawatir, was-was. Sungguh. Ini kan pertaruhan masa depan bangsa, pertaruhan demokrasi," kata ibu anggota Dewan mengajak serius.
Sambil menyantap makan siang, kami pun membahas masalah Pemilu 2009. Sebagai partner kerja KPU, anggota Komisi II DPR tentu sangat paham dengan segala macam urusan pemilu, mulai dari soal rekrutmen, pelaksanaan tahapan, anggaran sampai logistik.
Namun dalam pembicaraan itu, intinya, mereka ragu, bahwa Pemilu 2009 bisa berjalan sesuai waktu. Jika pun berjalan, pastiΒ akan banyak masalah. Pemilu 2009 akan berjalan asal-asalan. Satu kesimpulan yang saya rasa
ada tidak salah.
Β
"Sebagai partner KPU, kami ini ikut bertanggung jawab kalau sampai pemilu tidak terselenggara sebagaimana mestinya," kata seorang anggota, seakan meneguhkan kekhawatiran dirinya dan kawan-kawannya. "Jadi, bagaimana ya?" tambahnya.
Menghadapi kekhawatiran seperti itu, saya jadi ingat kata-kata kawan saya, Jeirry Sumampow dari JPPR. "Khawatir tentang pemilu? Ah, gampang saja. Temui saja anggota KPU. Anda pasti akan tenang kembali."
Kata Jeirry, perhatikanlah pernyataan-pernyataan anggota KPU saat menanggapi masalah-masalah pemilu yang diajukan pemantau, pengamat atau wartawan. Jawabannya selalu meyakinkan: kita sudah siapkan jalan keluarnya,
kita sudah susun draf peraturannya, kita sudah plenokan, dll, dll. Singkat kata, tak ada masalah yang tak tersentuh.
Nasihat Jeirry itu juga yang saya sampaikan kepada rombongan anggota Komisi II DPR.
*) Didik Supriyanto, Ketua Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem).
Β
(diks/nrl)











































