"Ya harapannya dibasmi cari jalan keluarnya bagaimana caranya supaya warga tenang tidurnya. Lah kalau sampai masuk ke kamar masuk ke kuping, gimana," kata Akhirudin di lokasi, Rabu (20/2/2019).
Ulat itu tidak menimbulkan gatal tapi berbau amis ketika warga mematikannya. Akhirudin cukup cemas karena di rumahnya ada bayi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akhirudin mengatakan ulat-ulat itu berasal dari tumpukan sampah di tanah urukan yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Ketua RT 01 Daelami juga mengaku kecewa atas adanya pembuangan sampah di situ.
"Jadi kami sebagai RT pun sebenarnya kecewa dengan adanya pembuangan sampah di sini. Ini tentu imbasnya seperti ini ya," kata Daelami.
Ulat-ulat itu muncul sejak Januari 2019. Kemunculan ulat semakin masif belakangan ini.
"Saya pikir waktu itu nggak banyak ya, ah cuma sedikit gitu kan. Tapi sekarang udah mulai bulan yang lalu mulai banyak. Ini jadi semua tuh banyak pembuangan sampah, sampah ini di bawah," sambungnya.