Seperti dilansir CNN, Kamis (4/1/2018), informasi ini disampaikan dalam buku berjudul 'Fire and Fury: Insiden the Trump White House' yang ditulis oleh Michael Wolff dan akan segera dirilis. Media Inggris, The Guardian, telah mendapat salinan buku ini terlebih dulu.
Wolff dikenal sebagai pengarang ternama AS dan juga jurnalis yang kerap menulis kolom serta menjadi kontributor untuk beberapa media AS.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di antara mereka (Ivanka dan Kushner-red), keduanya telah mencapai kesepakatan penting: Jika suatu saat di masa depan kesempatan muncul, dia (Ivanka-red) akan mencalonkan diri menjadi presiden (AS)," demikian bunyi salah satu bagian isi buku Wolff tersebut. Tidak diungkapkan oleh Wolff dari mana dirinya mendapatkan informasi ini.
"Presiden wanita pertama (AS) bukan Hillary Clinton; tapi Ivanka Trump," sebut buku itu.
Buku ini juga membahas soal pertikaian antara mantan ketua pakar strategis Gedung Putih, Steve Bannon, dengan Ivanka dan suaminya.
"Bannon yang mencetuskan istilah 'Jarvanka' yang kini banyak digunakan di Gedung Putih, merasa takut ketika kesepakatan pasangan ini dilaporkan kepadanya. 'Apakah mereka benar mengatakannya?' katanya. 'Berhenti. Oh, ayolah. Mereka tidak benar-benar mengatakan itu? Tolong jangan beritahu saya itu. Ya Tuhan'," tulis Wolff dalam bukunya itu.
Ivanka pertama terjun ke politik saat membantu ayahnya dalam kampanye pilpres. Kini, wanita berusia 36 tahun ini menjabat sebagai salah satu penasihat kepresidenan dan memiliki kantor di Gedung Putih, meskipun dia tidak mendapat bayaran karena masih berstatus keluarga presiden. Sebelumnya Ivanka aktif sebagai pengusaha wanita yang memiliki merek fashion sendiri dan membantu ayahnya di bisnis real estate.
Gedung Putih secara tegas telah menyangkal isi buku Wolff. "Buku ini dipenuhi keterangan bohong dan menyesatkan dari individu-individu yang tidak memiliki akses atau pengaruh terhadap Gedung Putih. Keterlibatan dalam buku yang hanya bisa disebut sebagai kisah tabloid sampah, mengungkapkan upaya menyedihkan dan menyedihkan mereka," tegas Sekretaris Pers Gedung Putih, Sarah Sanders.
(nvc/nkn)