Tujuh petinggi parpol itu adalah Ketum Gerindra Prabowo Subianto, Ketum PAN Zulkifli Hasan, Ketum PKB Muhaimin Iskandar, Ketum Hanura Oesman Sapta Odang, Ketum PPP Romahurmuziy, Presiden PKS Sohibul Iman, dan Ketua Fraksi Demokrat Eddhie Baskoro Yudhoyono alias Ibas. Mereka bertemu di kediaman Zulkifli semalam.
Waketum PAN Viva Yoga Mauladi mengatakan petinggi dari tujuh parpol itu membahas supaya isu krusial RUU Pemilu tak divoting.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Misalnya penerapan parliamentary threshold. Kalau semakin tinggi, bagaimana parpol yang memiliki jumlah kursi rendah. Kira-kira lolos apa nggak. Itu dalam rangka memperkuat sistem presidensial," ucap Viva.
Viva membenarkan bahwa pertemuan itu dihadiri sederet ketum dan petinggi partai. "Ya begitulah. Ada Ibas juga, OSO ada," ucapnya.
Isu-isu krusial RUU Pemilu sendiri dibahas hari ini. Ada beberapa hal yang diambil keputusannya, mulai dari sistem pemilu, presidential threshold, hingga parliamentary threshold.
Ketua Fraksi Demokrat Edhie Baskoro Yudhoyono alias Ibas juga membenarkan adanya pertemuan itu. Dia mengatakan pertemuan tersebut dilakukan demi mewujudkan sistem pemilu yang jujur dan adil.
"Saya pikir silaturahim yang dilakukan oleh siapa pun saya pikir itu sah-sah saja, sejauh itu menyangkut dengan tujuan besar, yaitu bagaimana menata rancangan undang-undang pemilu yang benar-benar transparan, yang benar-benar akuntabel, yang benar-benar mengarah kepada pemilu yang jujur dan adil tanpa hal-hal yang akan merusak sistem demokrasi yang kita inginkan," ucap Ibas secara terpisah.
"Dan kesepakatan itu, terjemahan itu harus dipahami secara bersama-sama bagi siapa pun, mungkin pertemuan silaturahim yang dilakukan tadi malam itu salah satunya demikian. Menyamakan tone, persepsi, dan bagaimana kita menata bangsa kita, demokrasi kita, dan sistem penyederhanaan sistem pemilu kita ke depan lebih baik," tuturnya. (dkp/imk)











































