Suara dan Harapan Warga AS Jelang Pelantikan Donald Trump

Suara dan Harapan Warga AS Jelang Pelantikan Donald Trump

Novi Christiastuti - detikNews
Kamis, 19 Jan 2017 18:08 WIB
Suara dan Harapan Warga AS Jelang Pelantikan Donald Trump
Donald Trump saat menggelar konferensi pers di Trump Tower beberapa waktu lalu (REUTERS/Shannon Stapleton)
Washington DC - Donald Trump bersiap memimpin sebagai Presiden Amerika Serikat (AS). Warga Amerika memiliki suara dan harapan berbeda untuk Trump. Ada yang bersemangat menyambut Tump, namun ada juga yang ketakutan dan hanya pasrah.

Pelantikan Trump dan Mike Pence akan digelar pada Jumat (20/1) siang waktu AS. Pelantikan ini diperkirakan akan dibanjiri sekitar 800 ribu - 900 ribu orang. Namun tak hanya dihadiri pendukung, pelantikan Trump juga akan diwarnai demonstran yang berniat mengganggu jalannya upacara. Otoritas setempat mengerahkan lebih dari 3.200 personel kepolisian, 8 ribu personel Garda Nasional dan 5 ribu tentara tambahan untuk mengamankan pelantikan ini.

"Saya sungguh bersemangat, karena saya meyakini ini akan menjadi awal bagi hal-hal baik untuk Amerika. Saya harap semua orang yang berunjuk rasa, dan memiliki masalah, akan melihat bahwa seiring berjalannya waktu mereka akan berhenti kecewa, mereka akan melihat bagaimana hal-hal membaik," ucap Deni Dillon (60) yang seorang pengusaha kecil dari pinggiran Detroit, seperti dilansir AFP, Kamis (19/1/2017).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baca juga: Usai Dilantik di Capitol, Trump Akan Parade ke Gedung Putih

Dillon sengaja mengendarai mobilnya ke Washington DC untuk menghadiri pelantikan Trump. "Harapan saya adalah agar perbatasan aman, orang-orang yang butuh bantuan di Amerika Serikat -- para veteran, warga lanjut usia, para penyandang disabilitas -- akan mendapat prioritas utama," harapnya.

Berbeda dengan Dillon, Holly Morganelli (36) yang berasal dari Miami, Florida mengaku berkecil hati, kecewa, cemas dan sedih atas kemenangan Trump dalam pilpres 8 November 2016. "Saya sungguh merasa negara ini bergerak mundur, menjauh dari perkembangan positif dalam hal ras, etnis dan kesetaraan gender, menjauh dari tanggung jawab untuk masa depan kemanusiaan, hewan, dan lingkungan," sebutnya.

"Saya tidak lagi percaya pada kebanyakan sesama warga Amerika yang memegang keyakinan dan nilai-nilai ini," ucap Morganelli.

Baca juga: Begini Rangkaian Prosesi Pelantikan Donald Trump

Tak jauh berbeda, Hiba Nasser (20) yang merupakan warga muslim kelahiran AS, mengaku sedikit takut dengan kepemimpinan Trump. "Saya merasa takut, sedikit. Tidak setakut saat dia pertama terpilih, karena saat itu ada banyak kejahatan kebencian. Saya merasa sepertinya mulai berkurang sedikit," tuturnya.

"Saya harap dia memikirkan warga minoritas, karena kita menjadi landasan negara ini... Saya harap retorika kebencian akan semakin berkurang, agar dia memberikan platform untuk minoritas di negara ini," imbuh mahasiswa jurusan psikologi dan ilmu kriminal pada Wayne State University, Detroit, ini.

Sementara itu, Dennis Frasene (38) yang memilih rival Trump, Hillary Clinton, saat pilpres, berusaha untuk optimis pada pemerintahan Trump. "Saya merasa, mungkin Anda bisa menyebutnya optimis penuh harapan. Mungkin pria ini bisa menunjukkan sesuatu yang menjadi rahasia, tanpa diduga siapapun. Tapi saya dalam pola pikir bahwa kita perlu mendukung presiden kita, terlepas apakah kita setuju atau tidak dia terpilih. Memang begitu jalannya," ucapnya.

"Dia membuktikan dirinya sebagai marketer brilian dan brand ambassador yang brilian untuk mereknya sendiri dan saya merasa dia jauh lebih cerdas dan penuh perhitungan dibanding yang dituturkan kebanyakan orang. Saya pikir tidak mungkin pria ini ingin menjadi presiden agar bisa mengacau," tandasnya.

Baca juga: Trump Ingin Batasi Wartawan di Gedung Putih

(nvc/tor)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads