Dilansir Reuters, Minggu (25/12/2016), belum ada kelompok tertentu yang mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut. Namun kelompok ekstremis diketahui aktif berada di wilayah itu.
Kepala polisi kota Midsayap, Bernardo Tayong, mengatakan kebanyakan dari korban luka berada di luar Gereja Santo Nino. Mereka tengah berdiri di halaman gereja yang berada di kota Midsayap, North Cotabato tersebut. Uskup Jay Virador mengatakan ledakan itu membuat para jemaat panik dan berlarian.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seorang polisi dilaporkan terluka karena berdiri dengan mobil patroli. Granat itu meledak sekitar 30 meter dari pintu masuk gereja.
Pada September 2016 lalu, 14 orang tewas dan 70 lainnya terluka ketika bom meledak di pasar yang ramai di Davao City, kota kelahiran Presiden Rodrigo Duterte. Saat itu 9 orang dikaitkan dengan ISIS telah ditahan.
(dhn/nwk)











































