Seperti dilansir Reuters, Jumat (9/12/2016), seruan ini diungkapkan di tengah berbagai tudingan yang menyebut tentara Myanmar melakukan pemerkosaan terhadap wanita Rohingya, pembakaran rumah-rumah warga dan pembunuhan warga sipil di Rakhine. Otoritas Myanmar telah menyangkal berbagai tudingan itu.
Otoritas Myanmar menegaskan, operasi militer di negara bagian Rakhine bertujuan mencari pelaku serangan terkoordinasi terhadap tiga pos perbatasan pada 9 Oktober lalu, yang menewaskan 9 personel kepolisian setempat. Suu Kyi, pekan lalu, menuding dunia internasional memancing kebencian di antara warga mayoritas Buddha dengan minoritas muslim Rohingya di Rakhine.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Terkait Krisis Rohingya, Mantan Sekjen PBB Serukan Myanmar Patuhi Hukum
"Hanya dengan menanggapi kekhawatiran ini secara konkret, akan memampukan pemerintah untuk menyelesaikan krisis dan menjaga posisi internasionalnya," imbuhnya.
Langkah konkret yang dimaksud adalah Suu Kyi yang juga bergelar Konselor Negara ini mengunjungi langsung Rakhine, yang menjadi tempat tinggal kebanyakan warga Rohingya.
"Saya juga menyerukan kepada Daw Suu untuk mengunjungi Maungdaw dan Buthidaung dan memastikan warga sipil di sana bahwa mereka akan dilindungi," ucap Nambiar, merujuk pada dua kota yang lumpuh akibat konflik di wilayah Rakhine.
Operasi militer Myanmar di Rakhine State telah menewaskan sedikitnya 86 orang dan memaksa lebih dari 21 ribu warga Rohingya mengungsi ke Bangladesh. Krisis kemanusiaan di Rakhine ini menjadi tantangan tersendiri bagi Suu Kyi yang juga pemenang Nobel Perdamaian dan pernah berjanji akan mewujudkan rekonsiliasi di Rakhine.
Baca juga: Hindari Konflik di Myanmar, 21 Ribu Warga Rohingya Kabur ke Bangladesh
(nvc/ita)











































