"Ini sungguh di luar pemahaman saya soal tanggung jawab para kandidat (capres) untuk tetap setia kepada negaranya dan hanya kepada negaranya, bukannya malah menyerukan kepada seseorang seperti (Vladimir) Putin dan Rusia, dan berusaha melibatkan mereka dalam upaya melakukan konspirasi terhadap pihak lain," terang Panetta, yang mengaku terkejut dengan seruan Trump, seperti dilansir CNN, Kamis (28/7/2016).
Baca juga: Donald Trump Tantang Rusia Untuk Meretas Email Hillary Clinton
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sekarang Anda memiliki calon presiden yang faktanya, meminta Rusia untuk mencampuri politik Amerika dan saya pikir itu tidak bisa diterima," sebut Panetta.
"Saya memiliki banyak kekhawatiran soal kualitas kepemimpinannya (Trump) atau kurangnya kualitas itu. Pernyataan semacam itu menunjukkan fakta bahwa dia (Trump) sungguh tidak layak menjadi Presiden Amerika Serikat," tutupnya.
Baca juga: Obama Sebut Rusia Mungkin Saja Coba Pengaruhi Pilpres AS
Dalam pernyataan terbarunya, Trump menyerukan kepada Rusia untuk mencari email-email Hillary yang hilang. Email yang dimaksud terkait skandal email Hillary saat menjabat Menteri Luar Negeri AS periode tahun 2009-2013, ketika Hillary menggunakan email pribadi untuk membahas persoalan negara.
Hillary dan timnya telah menyerahkan ribuan email kepada otoritas AS tahun 2015, namun ada sekitar 30 ribu email yang tidak diserahkan dengan alasan bersifat personal dan tidak berkaitan dengan pekerjaannya sebagai Menlu AS. Dilaporkan, email-email itu telah dihapus.
Bulan ini, Direktur Biro Investigasi Federal (FBI) James Comey menyebut ada bukti yang menunjukkan Hillary sangat ceroboh dalam menangani informasi-informasi rahasia saat menjabat Menlu. Namun penyelidikan FBI tidak menemukan dasar untuk menjeratkan dakwaan pidana kepada Hillary.
"Rusia, jika kalian mendengarkan, saya harap kalian mampu menemukan 30 ribu email yang hilang. Saya pikir kalian mungkin akan mendapat penghargaan besar oleh media kami," demikian seruan Trump dalam konferensi pers di Florida, pekan ini.
Baca juga: Rusia Bantah Ikut Pengaruhi Pilpres AS untuk Dukung Trump
"Pagi ini, dia secara pribadi mengundang Rusia untuk meretas kita. Itu bukan penegakan hukum, itu sama saja dengan niat kriminal," sebut purnawirawan militer AS, Laksamana Muda AS John Hutson soal Trump.
(nvc/ita)











































