Eks Direktur CIA Sebut Donald Trump Tak Layak Jadi Presiden AS

Eks Direktur CIA Sebut Donald Trump Tak Layak Jadi Presiden AS

Novi Christiastuti - detikNews
Kamis, 28 Jul 2016 10:44 WIB
Eks Direktur CIA Sebut Donald Trump Tak Layak Jadi Presiden AS
Leon Panetta (REUTERS/Mike Segar)
Philadelphia - Mantan Direktur Badan Intelijen Amerika Serikat (AS) atau CIA, Leon Panetta, menyebut capres Partai Republik, Donald Trump, tidak layak menjadi Presiden AS. Komentar Panetta ini menanggapi seruan Trump menantang Rusia meretas email Hillary Clinton.

"Ini sungguh di luar pemahaman saya soal tanggung jawab para kandidat (capres) untuk tetap setia kepada negaranya dan hanya kepada negaranya, bukannya malah menyerukan kepada seseorang seperti (Vladimir) Putin dan Rusia, dan berusaha melibatkan mereka dalam upaya melakukan konspirasi terhadap pihak lain," terang Panetta, yang mengaku terkejut dengan seruan Trump, seperti dilansir CNN, Kamis (28/7/2016).

Baca juga: Donald Trump Tantang Rusia Untuk Meretas Email Hillary Clinton

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Panetta dalam wawancara eksklusif dengan wartawan senior CNN, Christiane Amanpour. Panetta yang anggota Partai Demokrat ini, pernah menjadi Kepala Staf pemerintahan Presiden Bill Clinton, suami Hillary, sebelum menjabat di bawah pemerintahan Presiden Barack Obama. Komentar ini disampaikan Panetta saat menghadiri Konvensi Nasional Partai Demokrat di Philadelphia.

"Sekarang Anda memiliki calon presiden yang faktanya, meminta Rusia untuk mencampuri politik Amerika dan saya pikir itu tidak bisa diterima," sebut Panetta.

"Saya memiliki banyak kekhawatiran soal kualitas kepemimpinannya (Trump) atau kurangnya kualitas itu. Pernyataan semacam itu menunjukkan fakta bahwa dia (Trump) sungguh tidak layak menjadi Presiden Amerika Serikat," tutupnya.

Baca juga: Obama Sebut Rusia Mungkin Saja Coba Pengaruhi Pilpres AS

Dalam pernyataan terbarunya, Trump menyerukan kepada Rusia untuk mencari email-email Hillary yang hilang. Email yang dimaksud terkait skandal email Hillary saat menjabat Menteri Luar Negeri AS periode tahun 2009-2013, ketika Hillary menggunakan email pribadi untuk membahas persoalan negara.

Hillary dan timnya telah menyerahkan ribuan email kepada otoritas AS tahun 2015, namun ada sekitar 30 ribu email yang tidak diserahkan dengan alasan bersifat personal dan tidak berkaitan dengan pekerjaannya sebagai Menlu AS. Dilaporkan, email-email itu telah dihapus.

Bulan ini, Direktur Biro Investigasi Federal (FBI) James Comey menyebut ada bukti yang menunjukkan Hillary sangat ceroboh dalam menangani informasi-informasi rahasia saat menjabat Menlu. Namun penyelidikan FBI tidak menemukan dasar untuk menjeratkan dakwaan pidana kepada Hillary.

"Rusia, jika kalian mendengarkan, saya harap kalian mampu menemukan 30 ribu email yang hilang. Saya pikir kalian mungkin akan mendapat penghargaan besar oleh media kami," demikian seruan Trump dalam konferensi pers di Florida, pekan ini.

Baca juga: Rusia Bantah Ikut Pengaruhi Pilpres AS untuk Dukung Trump

"Pagi ini, dia secara pribadi mengundang Rusia untuk meretas kita. Itu bukan penegakan hukum, itu sama saja dengan niat kriminal," sebut purnawirawan militer AS, Laksamana Muda AS John Hutson soal Trump.

(nvc/ita)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads