
Krisis politik Venezuela diperparah dengan perekonomian yang memburuk.
Pemimpin kubu oposisi Venezuela, Henrique Capriles, mendesak tentara untuk memilih berpihak pada konstitusi atau Presiden Nicolas Maduro.
Hal tersebut disampaikannya setelah Presiden Maduro menyatakan keadaan darurat selama 60 hari dengan memperluas wewenang polisi dan tentara untuk mengatasi krisis ekonomi yang semakin memburuk.
Menurut Capriles, keadaan darurat itu memberi kekuasaan yang tidak konstitusional kepada presiden.
- Upaya 'menggulingkan' presiden Venezuela gagal
- Kubu oposisi Venezuela gusur partai sosialis di parlemen
- Lempar mangga ke presiden Venezuela untuk dapatkan rumah
Dia juga menyerukan agar rakyat Venezuela mengabaikannya dan turun ke jalanan hari Rabu 18 Mei.
"Kami, rakyat Venezuela, tidak bisa menerima dekrit ini. Maduro menempatkannya di atas konstitusi," kata Capriles kepada para wartawan.

Majelis Nasional Venezuela sudah menolak dekrit keadaan darurat.
"Untuk menerapkan ini, dia harus mulai menyiapkan pengerahan tank perang dan pesawat tempur militer."
"Dan saya katakan kepada angkatan bersenjata: Jam kebenaran tiba, untuk menentukan apakah Anda bersama konstitusi atau bersama Maduro," tambahnya.
Keadaan darurat diterapkan selama 60 hari dan bisa diperpanjang untuk 60 hari lagi.
Dekrit itu sudah ditolak oleh Majelis Nasional, yang didominasi pendukung oposisi, namun Maduro memberi isyarat dia tidak akan mematuhi keputusan tersebut.
Dalam konferensi pers untuk wartawan asing, dia mengatakan bahwa Majelis Nasional sudah kehilangan 'validitas politiknya'.
(imk/imk)










































