Pembongkaran Kalijodo telah diperhitungkan Ahok dengan seksama mulai dari cara-cara persuasif hingga kemungkinan menghadapi resistensi dari preman dan bos-bos pemilik prostitusi. Ia berencana meminta bantuan Polda Metro Jaya, bahkan bila perlu meminta bantuan militer untuk menertibkan Kalijodo.
Ahok ingin menyulap kawasan itu menjadi Taman Pisang dengan jalan yang bagus. "Pembersihan Kalijodo kita lagi ukur-ukur kekuatan dulu ya. Memberesi Waduk Pluit, baru kita beresi itu," ujar Ahok.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikut 4 kekuatan Ahok:
1. Seribu Preman Vs Seribu Brimob
|
Foto: Hasan Alhabsyi/detikcom
|
Menurut dia, tak ada di dunia ini negara yang takut dengan preman. "Mana ada sih negara kalah sama preman?" kata Ahok kepada wartawan di Balai Kota, Jakarta, Kamis (11/2/2016).
Kalaupun benar ada preman yang 'menguasai' Kalijodo, Ahok akan minta bantuan polisi. Jika personel di Polsek Penjaringan tak cukup, akan dimintakan back up dari Brimob Kepolisian Daerah Metro Jakarta Raya.
Menurut Ahok menghadapi kelompok preman di Kalijodo tak cukup dengan satu atau dua orang polisi. "Pasukan datangnya jangan satu atau dua orang. Kalau mereka ada seribu preman, kami datangkan seribu Brimob bersenjata lengkap," kata Ahok.
2. Kerahkan Tank Militer
|
Foto: Hasan Alhabsyi/detikcom
|
"Ya sudah, nanti kita minta kirim tank ke sana, he he he...," kata Ahok di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Rabu (10/2/2016).
Bila ada preman yang menentang penertiban di 'red light district' Jakarta itu, Ahok tak akan ambil pusing. Dia tetap akan melaksanakan kebijakannya menertibkan wilayahnya itu.
"Enggak apa-apa. Kita hanya melaksanakan tugas kok," kata Ahok.
3. Dibeking Kapolda Metro
|
Foto: Rengga Sancaya
|
"Nanti kita lakukan koordinasi dengan Pemda DKI apa langkah-langkah kita untuk melakukan penertiban di tempat itu," ujar Tito kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (10/2/2016).
Namun, bila Kalijodo yang sekarang masih menjamur kafe remang-remang-menjadi permasalahannya, Tito pun mendukung sepenuhnya upaya Pemda DKI untuk melakukan penertiban.
"Nah sekarang kalau Kalijodo-nya dipermasalahkan, kita kembalikan pada Pemda. Apa kebijakan Pemda kita ikuti, kita akan dukung," tambah Tito.
Soal adanya rumor Kalijodo dibekingi preman dan ormas, Kapolda menegaskan pihaknya tidak takut. "Nggak juga. Kita polisi dan TNI mewakili negara tidak akan takut kepada elemen lainnya. Tak ada tempat yang nggak bisa disentuh TNI-Polri. Saya sendiri saat jadi Kapolda Papua dua tahun di sana, ada tempat yang katanya ada kelompok bersenjata di sana kita datangi," tutupnya.
4. Danai PSK dan Kirim Peringatan
|
Foto: Ari Saputra
|
"Itu kan rata-rata KTP bukan DKI. Yang punya situ rata-rata tidak tinggal disitu. Bos-bosnya mana mungkin tinggal di situ. Cewek-ceweknya pasti bukan KTP DKI," ujar Ahok di Balai Kota DKI Jakarta, Jl Medan Merdeka Barat, Jakpus, Kamis (11/2/2016).
Ahok bahkan bersedia mendanai biaya pemulangan para kupu-kupu malam tersebut. Menurutnya, itu persoalan mudah. "Oh gampang, kita ada dananya. Kalau pulang kampung mah gampang," ujar Ahok.
Ketika ditanya kapan rencana pembongkaran dilakukan, Ahok telah menyerahkannya kepada Wali Kota Jakarta Utara dan Wali Kota Jakarta Barat, mengingat Kalijodo berada di perbatasan kedua wilayah tersebut.
Proses pembongkaran harus dimulai dengan Surat Peringatan (SP) 1 hingga SP 3. Baru kemudian diterbitkan Surat Perintah Bongkar (SPB). Sementara saat ini SP 1 belum dikeluarkan. "Kita akan kirim SP 1. Saya sudah minta kasih SP 1 dulu, SP 2, SP 3, SPB. Begitu masuk SPB pasti kita akan minta bantuan polisi dan tentara," tuturnya.
Halaman 2 dari 5











































