"Asal suku tidak lagi menjadi pilihan atau dijadikan alasan untuk memilih. Dikotomi Jawa-Non Jawa tidak lagi menjadi persoalan, tetapi lebih melihat pada visi dan misi masing-masing pasangan calon," ujar Direktur Eksekutif Puskaptis, Husin Yazid, kepada wartawan saat jumpa pers di Restoran Bengawan Solo, Hotel Sahid, Jakarta, Minggu (21/6/2009).
Dalam survei Puskaptis yang dilakukan pada 4-11 Juni 2009, dengan pertanyaan latar belakang suku presiden yang diharapkan, mayoritas 90,91 persen responden menjawab sama saja, sedangkan 6,36 persen responden memilih Jawa, dan hanya 2,73 persen yang memilih Luar Jawa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara saat ditanyakan alasan memilih capres-cawapres, sekitar 51,12 persen responden memilih karena visi-misi, sekitar 37,35 persen memilih karena figurnya, dan sisanya 11,53 persen memilih karena partainya.
Figur yang biasanya banyak dijadikan alasan masyarakat dalam memilih capres-cawapresnya hanya dipilih oleh sepertiga responden.
"Sekarang ini yang menjadi faktor penentu adalah visi-misi dan mesin politik
(partai, relawan, tim sukses). Bagaimana mengemas visi-misi ke dalam iklan politik yang apik dan mengena ke rakyat dan mengoptimalkan pergerakan relawan dan tim sukses," pungkasnya.
Survei mengambil 2.888 responden di 33 provinsi, 150 kab/kota, 750 kecamatan, 1500 kelurahan/desa. Menggunakan metode wawancara tatap muka dengan kuesioner, dengan margin of error ± 3 persen, tingkat kepercayaan 95 persen, dan kontrol kualitas 20 persen dari total responden. (nvc/irw)











































