Berdasarkan survei yang diselenggarakan Puskaptis, elektabilitas SBY-Boediono 52,15%, Megawati-Prabowo 22,17%, dan JK-Wiranto 17,20%. "Ada 8,48% responden yang belum menentukan pilihannya," kata Direktur Eksekutif Puskaptis dalam pemaparan hasil surveinya di Restoran Bengawan Solo, Hotel Sahid, Jakarta, Minggu (21/6/2009).
Survei Puskaptis ini digelar 4-11 Juni 2009. Survei melibatkan 2.888 orang di 33 provinsi, 150 kabupaten/kota, 750 kecamatan, dan 1500 kelurahan/desa. Margin error 3 persen dengan tingkat kepercayaan 95%. Metode survei yang dilakukan adalah wawancara tatap muka dan kuesioner.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yazid menjelaskan alasan mengapa elektabilitas JK cenderung naik, meski tidak signifikan. "Pasangan Mega-Prabowo dan SBY-Boediono kurang gencar dalam melakukan serangan udara, terutama menjelaskan visi dan misinya di iklan mereka. Sedangkan JK naik, karena visi kerakyatannya yang selalu ditampilkan dalama iklannya baik di TV maupun radio," kata dia.
Mengenai elektabilitas SBY yang menurun, kata Yazid, karena adanya isu sektarian religius keagamaan dan juga kurang solidnya koalisi Demokrat. "Tapi, kurang solidnya koalisi Demokrat itu merupakan faktor paling besar yang mengakibatkan elektabilitas SBY menurun," jelas dia.
Bagaimana dengan Mega-Prabowo? Menurut Yazid, elektabilitas pasangan ini semakin menurun karena mereka kurang gencar dalam melakukan serangan udara. "Balihonya sangat jarang. Di Jakarta saja, baliho-baliho didominasi oleh SBY dan JK," ujar dia.
(asy/nrl)











































