detikNews
Selasa 12 November 2019, 10:30 WIB

Pro Kontra

MUI Jatim Imbau Pejabat Tak Salam Semua Agama, Setuju atau Tidak?

Tim detikcom - detikNews
MUI Jatim Imbau Pejabat Tak Salam Semua Agama, Setuju atau Tidak? Foto: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta - MUI Jatim mengimbau agar para pejabat tidak menyebutkan salam semua agama saat berpidato. Imbauan itu pun mendapat respons beragam antara yang setuju maupun tidak. Bagaimana dengan Anda?

Imbauan MUI Jatim itu tertuang dalam surat bernomor 110/MUI/JTM/2019 yang diteken Ketua MUI Jatim KH Abdusshomad Buchori. Dalam surat tersebut terdapat poin yang menyerukan kepada para pejabat untuk menggunakan salam sesuai ajaran agama masing-masing. Jika pejabat itu Islam, diimbau cukup menggunakan kalimat 'Assalaamu'alaikum. Wr. Wb'.


Menurut Kiai Somad, dalam Islam, salam diartikan sebagai doa. Sedangkan doa merupakan ibadah. Untuk itu, tak baik jika mencampuradukkan ibadah satu dengan yang lain.

"Kalau saya menyebut Assalamualaikum itu doa semoga Allah SWT memberi keselamatan kepada kamu sekalian dan itu salam umat Islam. Jadi ketika umat Muslim bertemu itu diawali dengan itu, semoga mendapat keselamatan yang diberikan oleh Allah," ungkap Kiai Somad.

"Nah agama lain juga punya, misalnya Hindu kayak apa, agama Kristen kayak apa, agama Buddha seperti apa. Agama lain kelompok aliran juga seperti apa. Misalnya pejabat, seorang gubernur, seorang presiden, wakil presiden, para menteri, kalau dia agamanya muslim ya assalamualaikum. Tapi mungkin kalau gubernur Bali ya dia pakai salam Hindu. Karena salam itu adalah doa dan doa itu ibadah, ini menyangkut Tuhan dan agamanya masing-masing," pungkasnya.



Sekjen MUI pusat, Anwar Abbas, mendukung imbauan MUI Jatim itu. Anwar menjelaskan, dalam Islam, setiap doa mengandung dimensi teologis dan ibadah. Umat Islam hanya diperbolehkan berdoa dan meminta pertolongan kepada Allah. Karena itu, kata dia, berdoa kepada Tuhan dari agama lain tidak dibenarkan.

Sementara itu, Menteri Agama Fachrul Razi menegaskan bahwa jika pidato tersebut disampaikan di acara skala nasional dengan peserta yang beragam, tentu saja salam yang disampaikan secara nasional. Berbeda bila acara yang dihadiri pejabat itu hanya untuk umat Muslim.

Apa kata para pejabat? Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, menegaskan dia tetap akan mengucapkan salam semua agama. Sementara itu, Presiden Joko Widodo juga tetap mengucapkan salam semua agama ketika berpidato di HUT ke-8 NasDem.

"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, selamat malam, salam sejahtera untuk kita semua, Om Swastyastu, Namo Buddhaya, salam kebajikan," kata Jokowi dalam pidatonya.



Bagaiamana dengan Anda? Apakah Anda setuju dengan imbauan MUI Jatim bahwa pejabat tidak perlu mengucapkan salam semua agama saat pidato atau anda tidak setuju dan berpendapat pejabat boleh salam semua agama?

Berikan pendapat Anda serta alasannya di kolom komentar berita ini
(imk/fjp)



Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed