Prabowo Hadapi Narasi Pengkhianat di Munas KAHMI, Cerita soal Pemuda Siap Mati

ADVERTISEMENT

Prabowo Hadapi Narasi Pengkhianat di Munas KAHMI, Cerita soal Pemuda Siap Mati

Firda Cynthia Anggrainy - detikNews
Rabu, 30 Nov 2022 14:22 WIB
Gabungan relawan Presiden Jokowi merapat ke kediaman Ketum Gerindra Prabowo Subianto di Jl Kertanegara, Jakarta. Begini momen hangat usai pertemuan.
Prabowo Subianto. (A.Prasetia/detikcom)
Jakarta -

Video berisi potongan pidato Menteri Pertahanan (Menhan) sekaligus Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto yang menyerukan 'jangan mati untuk saya' menjadi sorotan. Prabowo saat itu sedang berkilas balik ketika dirinya kalah di Pilpres 2019.

Dalam nukilan video tersebut, tampak Prabowo sedang berpidato di acara KAHMI di Palu beberapa waktu lalu. Prabowo menceritakan dirinya meminta kepada seorang pemuda agar tidak mati untuknya. Begini bunyi potongan pidato Prabowo:

"Kok saya menangkap dulu 2019 banyak dari antum ini. Banyak ada di 02 kira-kira, banyak dari kalian yang kecewa sama saya, ya kan? Prabowo pengkhianat lah, Prabowo ini, Prabowo itu, ya kan. Saudara-saudara waktu hari-hari yang kritis, saya harus putuskan, saya melawan atau saya... Saya datang ke jalan daerah Menteng itu jam 1 malam, tanggal 22, tanggal 22 atau 21,banyak yang kena gas air mata, ada anak 18 tahun lihat saya: 'Pak Prabowo! Pak Prabowo. Kami siap mati untuk Pak Prabowo!'. Saya turun langsung: 'Eh, saya tidak mau kau mati untuk saya. Kau hidup untuk orang tuamu dan untuk bangsa Indonesia'. Kita tidak boleh pecah! Saudara-saudara, siapa yang jadi presiden, siapa yang jadi gubernur, siapa yang jadi bupati, tidak jadi masalah, yang penting bekerja untuk rakyat Indonesia!" kata Prabowo.

Gerindra sepakat dengan ucapan ketumnya tersebut.

"Ya apa yang disampaikan Prabowo itu benar, tidak boleh mengkultuskan individu," kata Ketua Harian Gerindra Sufmi Dasco Ahmad di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (30/11/2022).

Dasco mengatakan semua elemen tentu harus bekerja demi Merah Putih. Dasco mengajak semua pihak jangan mengkultuskan individu tertentu. Hal ini pula, kata dia, yang hendak dihindari Prabowo.

"Kalau mau bekerja tentunya untuk membela bangsa dan negara, untuk merah putih tentunya. Jadi jangan kemudian kita mati-matian mengkultuskan individu, harga mati untuk individu itu yang Pak Prabowo hindarkan," katanya.

Waketum Gerindra Habiburokhman mengatakan makna pidato Prabowo itu hendak menunjukkan politik kebangsaan jauh lebih penting ketimbang kontestasi perebutan jabatan. Dia mengingatkan jangan sampai bangsa terpecah belah hanya karena gelaran pemilu.

"Ya beliau menunjukkan kepada kita bahwa politik kebangsaan jauh lebih penting dari sekadar kontestasi perebutan jabatan. Sebagai sesama anak bangsa kita jangan terpecah belah hanya karena menang atau kalah Pemilu," kata Habiburokhman.

Habiburokhman menekankan urusan pemilu mestinya sudah selesai setelah keluar putusan Mahkamah Konstitusi (MK) atas gugatan paslon 02 Pilpres 2019, Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno. Prabowo, lanjut Habiburokhman, saat itu juga mengajak para pendukungnya agar segera mengakhiri perselisihan yang mencuat saat pilpres lalu.

"Kontestasi kepemiluan selesai setelah MK membuat putusan yang final dan mengikat. Untuk selanjutnya kita harus bersatu kembali bersama sama membangun bangsa ini," ujar dia.

"Sempat ada wacana untuk terus aksi massa tapi hal tersebut akan kontraproduktif, rakyat terpecah belah, ekonomi hancur dan hal-hal buruk lainnya. Oleh karena itu dengan besar hati beliau mengajak pendukungnya untuk mengakhiri perselisihan dan pertikaian," sambungnya.

Lihat juga Video: Sosok 'Rambut Putih' Disebut Jokowi, Buat Prabowo Senyum & Geleng-geleng

[Gambas:Video 20detik]




(fca/tor)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT