Zulfan Ungkap Awal Retaknya Hubungan Mega-SBY, Ungkit Telepon dari George Bush

ADVERTISEMENT

Zulfan Ungkap Awal Retaknya Hubungan Mega-SBY, Ungkit Telepon dari George Bush

Rolando Fransiscus Sihombing - detikNews
Selasa, 27 Sep 2022 06:43 WIB
Jakarta -

Politikus NasDem Zulfan Lindan bicara hubungan panas-dingin Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri dan Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Zulfan mengungkit ada telepon mantan Presiden Amerika Serikat (AS) George W Bush.

"Kalau persoalan hubungan Bu Mega dan Pak SBY ini diawali oleh ketika Gus Dur turun dari Presiden, Ibu Mega berharap sudahlah SBY, Akbar Tanjung, itu nggak usah maju capres biar Hamza Haz saja. Yang diinginkan oleh Ibu Mega," kata Zulfan saat diskusi Adu Perspektif dengan tema 'Membaca Manuver Tabloid, Dewan Kolonel, hingga Isu Dendam Lama' yang diselenggarakan detikcom dan Total Politik, Senin (26/9/2022).

"Tetapi kan permainan-permainan dari luar waktu itu tetap mendorong SBY maju, kemudian Akbar Tanjung ini maju. (Dari luar) Macam-macam, ada oligarki, ada macam-macam yang main. Tapi ternyata, karena Bu Mega harus berpegang pada Hamzah Haz, akhirnya yang menang Hamzah Haz. Itu sebenarnya awal dari hubungan keretakan itu terjadi," imbuhnya.

Ketua DPP NasDem Zulfan Lindan (Azizah/detikcom)Zulfan Lindan (dok. detikcom)

Kemudian, Zulfan Lindan mengaitkan hubungan Megawati dan SBY itu dengan adanya telepon dari George Bush ke Ketum PDIP itu tahun 2003 sebelum Pilpres 2004. Perlu diketahui, Zulfan Lindan merupakan mantan politikus PDIP. Zulfan pernah menjadi anggota DPR RI dari PDIP periode 1999-2004. Kemudian keluar dari PDIP tahun 2013 dan bergabung dengan NasDem.

"Tahun 2003, saya pukul 11.00 malam duduk sama Pak Taufiq di Teuku Umar. Tiba-tiba, Ibu Mega datang, kaget Pak Taufiq, 'Ada apa Ma?', 'Begini Pa' kata Mega. 'Saya ditelepon George Bush (junior)'. Presiden George Bush mengatakan pada Ibu Mega di telepon jam 11.00 malam bahwa 'Madam', George meminta supaya besok Presiden Megawati ini mengeluarkan statement mendukung serangan koalisi Amerika ke Irak," ujarnya.

Dalam telepon dengan George Bush, kata Zulfan, Megawati tak bisa langsung mendukung keinginan George Bush, sebab Megawati harus bertanya ke DPR soal sikap luar negeri Indonesia. Dalam telepon itu, Bush marah terhadap Megawati.

"Terus Pak Taufiq tanya, 'Apa kata Mama?', 'Saya bilang saja saya nggak bisa, saya kan harus bicara dulu dengan DPR'. 'Terus apa kata George Bush?', terus dia bilang bullshit, dia banting telepon. Langsung kata Mas Taufiq 'Mama istirahat saja deh, besok kita bicarakan'. Pak Taufiq langsung bilang sama saya, 'Sudahlah Fan, kita lupakan Mbak Mega jadi Presiden dua kali'. Artinya akan dijegal untuk terpilih, untuk maju capres bisa, tapi untuk dipilih dijegal," ucapnya.

Di sisi lain, Zulfan Lindan memuji sikap Megawati yang tak bisa dipengaruhi oleh Presiden dari negara manapun. Megawati, kata Zulfan, berani bersikap tegas terhadap negara lain.

"Bahwa Megawati itu nasional sejati, sebagai pemimpin negara dia tidak mau diintervensi oleh negara adikuasa. Ini kan saya kira satu sikap yang harus kita puji, sikap menolak tekan-tekanan dari Presiden suatu negara adikuasa, dan Megawati melawan itu. Kemudian George Bush marah, itu soal lain," katanya.

(rfs/idn)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT