ADVERTISEMENT

Melihat Peluang Prabowo dan Cak Imin Jadi Capres Koalisi Gerindra-PKB

Eva Safitri - detikNews
Selasa, 16 Agu 2022 08:07 WIB
Prabowo dan Cak Imin (Wildan Noviansah/detikcom).
Prabowo dan Cak Imin (Wildan Noviansah/detikcom).
Jakarta -

Gerindra dan PKB telah mendeklarasikan koalisinya secara resmi di rapat pimpinan nasional (rapimnas) Partai Gerindra. Kedua partai itu mengusung masing-masing ketua umumnya sebagai calon presiden 2024. Lantas siapa capres yang akan ditetapkan koalisi tersebut, Prabowo Subianto atau Muhaimin Iskandar?

Pengamat Politik Universitas Paramadina Hendri Satrio mengatakan belum terlihat kekuatan baik Prabowo ataupun Cak Imin jika terpilih menjadi capres koalisi Gerindra-PKB. Keduanya memiliki peluang dengan segmentasi berbeda. Prabowo unggul di survei sedangkan Cak Imin kuat dengan pendukung Nahdliyinnya.

"Sebetulnya hingga hari ini kekuatannya belum terlihat atau sama, kalau hasil survei kan Pak Prabowo di atas tapi kan Cak Imin mengusai suara Nahdliyin," kata Hensat kepada wartawan, Senin (15/8/2022).

Hensat mengatakan akan melewati sebuah proses untuk menentukan capres koalisi tersebut. Bahkan dia menyebut bisa saja koalisi Gerindra-PKB itu memilih wajah baru di luar kedua tokoh tersebut.

"Bisa dirembukkan saja nanti kira-kira peluang menangnya di mana mau wajah baru atau wajah berpengalaman tapi punya pengalaman kalah. Sampai hari ini sih belum terlihat siapa yang diuntungkan tapi yang jelas dengan adanya koalisi ini setidaknya baik Gerindra-PKB sudah tenang karena memiliki capres dan cawapres. Saya mendoakan koalisi ini sampai akhir supaya kita punya banyak capres," ujarnya.

Tunggu Instruksi

Di sisi lain, Hensat menilai ada kemungkinan kalau koalisi ini menunggu instruksi dari Istana terkait pemilihan capres-cawapres. Namun hal itu diibaratkan jika terbentuknya koalisi Gerindra-PKB itu didasarkan karena instruksi.

"Sebetulnya pertanyaan besarnya ini koalisi itu datang dari hati atau terbentuk berdasarkan instruksi, kalau dari hati lebih menarik karena komunikasi lebih terbuka, tapi kalau diciptakan dari instruksi, misalnya dari istana artinya siapa capres dan cawapresnya nunggu instruksi juga," ujarnya.

Catatan untuk Prabowo

Hensat lantas memberikan catatan untuk Prabowo. Dia mengatakan jika Prabowo dimajukan jadi capres, maka elektabilitas suaranya dinilai harus lebih tinggi dibandingkan suara sebelumnya. Sebab, di pemilu sebelumnya, Prabowo memiliki hampir 50 persen suara ketika melawan Jokowi.

"Saat ini kan memang Pak Prabowo elektabilitasnya tinggi, tapi harusnya lebih tinggi dari yang ada di lembaga survei, dulu dia hampir 50 persen karena ada Pak Jokowi, sekarang Pak Jokowi nggak ada harusnya lebih tinggi lagi," ujarnya.

Hal ini lantas menjadi catatan kalau Prabowo dinilai harus meyakinkan kembali pemilihnya di pemilu sebelumnya. Termasuk meyakinkan koalisi kalau Prabowo akan menang di Pilpres 2024.

"Ada PR untuk Prabowo pertama meyakinkan pendukungnya 2014-2019 bahwa kali ini dia akan menang. Kedua meyakinkan koalisi dia bahwa dia bisa menang kan sudah sering kalah kan, susah juga yakinkan kalau dia bisa menang. Ketiga yakin kan masyarakat Indonesia kalau dia serius nyapres, bukan cuma nanti ujungnya jadi mentari lagi, hal ini yang harus diselesaikan Pak Prabowo," ujarnya.

Simak juga video 'Gerindra-PKB Resmi Berkoalisi untuk Pilpres 2024!':

[Gambas:Video 20detik]



(eva/idn)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT