ADVERTISEMENT

Menerka Alasan Koalisi Gerindra-PKB Belum Usung Capres dan Cawapres

Firda Cynthia Anggrainy - detikNews
Senin, 15 Agu 2022 10:16 WIB
Ketum Gerindra Prabowo Subianto dan Ketum PKB Muhaimin Iskandar (Cak Imin) usai meneken piagam deklarasi koalisi di SICC, Sentul, Jawa Barat, Sabtu (13/8/2022). (Foto: Firda Cynthia/detikcom)
Foto: Ketum Gerindra Prabowo Subianto dan Ketum PKB Muhaimin Iskandar (Cak Imin) usai meneken piagam deklarasi koalisi di SICC, Sentul, Jawa Barat, Sabtu (13/8/2022). (Foto: Firda Cynthia/detikcom)
Jakarta -

Koalisi Gerindra dan PKB belum memunculkan capres dan cawapres usai mendeklarasikan sebagai koalisi di Pilpres 2024 mendatang. Kenapa?

Direktur Eksekutif Indostrategic Ahmad Khoirul Umam mengemukakan analisisnya. Umam menilai belum munculnya capres dan cawapres yang diusung poros koalisi itu mengindikasikan dua hal.

Umam mengatakan ada indikasi proses negosiasi politik antara Prabowo dan Cak Imin yang belum selesai. Umam menduga Prabowo menginginkan nama lain yang diusung menjadi cawapres di koalisi.

"Belum selesainya proses negosiasi politik antara Prabowo dan Muhaimin. Sempat muncul informasi Prabowo menginginkan nama lain selain Muhaimin yang lebih mengakar di basis pemilih Nahdliyyin," kata Umam kepada wartawan, Senin (15/8/2022).

Namun, Umam melihat mesin PKB menghendaki sang ketum diusung di poros. Alasannya, majunya Cak Imin sebagai paslon di pilpres nanti dinilai bakal membawa efek ekor jas (coat-tail effect) yang mampu mendongkrak suara PKB di pileg.

Meski demikian, Umam menilai strategi politik Cak Imin cenderung realistis dan fleksibel sejauh ini. Menurutnya, orientasi Cak Imin adalah menang.

"Tapi, menilik dinamika pilpres selama ini, strategi politik Muhaimin cenderung realistis dan fleksibel. Keputusannya bisa cepat berubah seiring dengan insting politik dan kalkulasi pragmatisme yang berkembang," kata Dosen Ilmu Politik & International Studies Universitas Paramadina itu.

"Orientasi Muhaimin adalah menang, bukan target dikenang sebagai capres dan cawapres yang tumbang," imbuhnya.

Umam menyebut dalam koalisi ini belum ada janur melengkung selama pasangan capres dan cawapres belum dideklarasikan. Potensi pecah kongsi, katanya, memungkinkan terjadi.

"Karena itu, jika per hari ini pasangan capres-cawapres dari koalisi Gerindra-PKB belum dideklarasikan, artinya janur belum melengkung. Sehingga potensi pecah kongsi masih bisa terjadi," kata dia.

Indikasi kedua, lanjut Umam, Koalisi Gerindra dan PKB belum mendeklarasikan paslon yang diusung merupakan strategi politik kedua partai untuk tetap membuka pintu bagi masuknya partai politik lain ke dalam koalisi. Menurutnya, jika koalisi ini sudah mengusung figur lebih dulu, hal itu berarti mengunci langkah koalisi.

"Sebab jika pasangan capres-cawapres sudah dideklarasikan, hal itu berarti mengunci langkah koalisi, sekaligus menutup kemungkinan partai lain yang akan masuk untuk dipertimbangkan menjadi cawapres bagi Prabowo," paparnya.

Apabila hal demikian terjadi, kata Umam, parpol yang baru bergabung bakal dianggap sebagai 'makmum' yang siap mengikuti 'imam' politiknya.

"Sehingga, siapa pun partai yang baru masuk dianggap sebagai 'makmum' yang harus siap mengikuti langkah imam politiknya. Itulah mengapa, di akhir deklarasi koalisi, muncul pantun dari Muhaimin yang mengajak partai politik bergabung ke dalam koalisi," ucapnya.

Lihat juga video 'Cak Imin Persilakan Parpol Lain Gabung Koalisi PKB-Gerindra':

[Gambas:Video 20detik]



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT