ADVERTISEMENT

Airlangga Ungkap Alasan Indonesia Harus Maju Sebelum 2035

Atta Kharisma - detikNews
Minggu, 14 Agu 2022 22:50 WIB
Koalisi Indonesia Bersatu
Foto: Golkar
Surabaya -

Ketua Umum DPP Partai Golkar Airlangga Hartarto menyampaikan partai Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) memiliki visi dan misi untuk membawa Indonesia dari negara berpenghasilan menengah atas (middle income country) menjadi negara yang maju berpendapatan tinggi (high income country) pada tahun 2035. Menurutnya, hal tersebut dapat dicapai dengan memanfaatkan bonus demografi yang di Indonesia.

"Kesempatan menuju ke arah itu, sangat terbuka dengan memanfaatkan bonus demografi di mana Indonesia memiliki usia produktif pada tahun 2025-2035. Kita harus 'kaya sebelum menua'. Inilah 'golden moment kita yang tak boleh terlewatkan," ujarnya dalam acara 'Launching Visi dan Misi Koalisi Indonesia Bersatu (KIB)' di Hotel Shangri-La, Surabaya, Minggu (14/8/2022).

Ia menekankan periode 2025-2035 merupakan momen krusial bagi pertumbuhan bangsa Indonesia. Sebab, dalam kurun waktu 10 tahun tersebut Indonesia perlahan akan kehilangan bonus demografi usia produktifnya.

"Sesudah tahun 2035 itu kita akan menjadi bangsa yang lebih banyak demografi orang tuanya, sehingga kalau pada waktu itu kita belum sejahtera, maka kita menjadi tua dan tidak keluar dari middle income trap (negara berpenghasilan menengah)," ungkapnya.

"Sehingga kita membutuhkan akselerasi yang lebih cepat," lanjutnya.

Karena itu, sambung Airlangga, momentum emas ini harus dipergunakan sebaik-baiknya untuk mendukung akselerasi dan transformasi terutama pada aspek ekonomi agar Indonesia cepat menjadi negara maju.

"Transformasi ekonomi ini dilakukan dengan reformasi struktural berbasis sumber daya manusia (SDM) yang unggul, termasuk mendorong ASN (Aparatur Sipil Negara) dengan pendekatan merit system yang berkesejahteraan," tambahnya.

Ia menuturkan salah satu langkah ekonomi yang harus dilakukan adalah dengan mengupayakan digitalisasi. Hal ini, terang Airlangga, juga harus ditunjang oleh sumber daya manusia yang mumpuni serta dukungan dari pemerintah sebagai akselerator.

"Yang penting bukan dari segi digitalisasi itu sendiri, tapi dari sumber daya manusia. Sumber daya digitalisasi tidak hanya dari masyarakat, tapi juga dari pemerintahnya. Jadi ASN pun kita harus dorong agar tidak hanya adaptif tapi menjadi akselerator. Dan ke depannya dibuat ekosistem berbasis merit, sehingga mereka yang berprestasi itu mendapatkan penghargaan baik di masyarakat maupun pemerintahan," pungkasnya.

(ega/ega)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT