"Saya kira iya. Yang harus dicari adalah solidarity maker, yang bisa menyatukan friksi-friksi akibat majunya Jusuf Kalla sebagai capres," kata pengamat politik dari Universitas Diponegoro (Undip) Yulianto.
Hal itu dikatakan dia kepada detikcom, Kamis (31/7/2009), saat dimintai pendapat seputar bursa calon ketua umum Golkar yang mulai memanas akhir-akhir ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Senada dengan pendapat pengamat lainnya, Yuli mengatakan, pertarungan calon ketum Golkar nantinya akan terbagi menjadi dua kubu. Yakni kubu yang berparadigma Golkar menjadi partai oposisi melawan kubu yang memihak pemerintah (konservatif).
"Yang berparadigma oposisi itu Surya Paloh Cs, yang juga menceraikan SBY-JK. Jadi jika yang jadi Surya Paloh, Golkar akan menjadi opoisi. Sedangkan yang berpihak kepada pemerintah adalah Aburizal Bakrie, karena mentalnya penguasa dan juga untuk pengamanan bisnis," imbuh Yuli.
Yuli melanjutkan, pertarungan kandidat Ketum Golkar pada acara Munas Golkar nanti sangat ditentukan oleh modal yang dipunyai masing-masing calon.
"Selama ini, pemilihan di Golkar banyak dikalahkan oleh uang. Yang sudah memperbaiki 'kapal' Golkar kan Akbar Tanjung, tapi dia dikalahkan oleh uang," pungkasnya.
(irw/irw)











































