"Ke depan Pileg dan Pilpres mendingan satu paket saja. Jadi Pileg partai yang menang, otomatis presidennya terpilih dari partai tersebut dan bisa mengambil dari partai mana untuk koalisi," ujar pengamat politik Yudi Latif usai diskusi di DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (31/7/2009).
Yudi mengkritik quick count dalam Pilpres yang dirilis saat Pilpres belum selesai dilakukan. Menurut Yudi, politik di Indonesia tidak bisa disamakan dengan politik di Amerika Serikat.
"Di kita dalam tradisi berdemokrasi yang baru dimulai ini disiplin dari lembaga quick count belum jelas. Kampanye yang sehat belum bisa dijamin," kata Direktur Eksekutif Reform Institute ini.
"Seperti kemarin presiden yang sudah dimenangkan secara quick count, harusnya bisa menahan diri dulu untuk pidato karena prosesnya kan belum secara resmi ditentukan," imbuh dia.
(nik/nrl)











































