Warna-warni Pandangan Masyarakat Mengenai Pilpres 2009

Warna-warni Pandangan Masyarakat Mengenai Pilpres 2009

- detikNews
Kamis, 30 Jul 2009 18:32 WIB
Warna-warni Pandangan Masyarakat Mengenai Pilpres 2009
Jakarta - Hasil pemilihan umum presiden 2009 sudah diumumkan dengan hasil pasangan nomor urut dua SBY-Boediono sebagai pemenangnya. Namun sejumlah pihak menilai proses pilpres masih diliputi banyak kecurangan sehingga perlu dilakukan pilpres ulang. Bagaimana tanggapan masyarakat terhadap polemik yang ada itu?

Ramadhany (24) Seorang wiraswasta menilai, pilpres sebaiknya tidak perlu diulang. Dia yakin jika pemilu presiden diulang hanya akan menambah beban masyarakat dan pemerintah saja.

"Menurut saya, pemilu tidak usah diulang, karena kalau pun ada kecurangan itu tidak mungkin sebesar 40 persen selisih dari dua pasangan lainnya," kata Rama saat berbincang dengan detikcom di Jakarta Kamis (30/7/2009).

Menurut Ramadhany, soal pemilu ulang itu hanya keinginan dua pasangan yang kalah. Mungkin saja ada kecurangan, tetapi jika benar akan digelar pilpres ulang, bukan tidak mungkin masyarakat akan semakin jenuh. "Udah pusinglah ngomongin politik terus," imbuhnya.

Hal senada juga diungkapkan Ari (60) yang pernah bekerja di salah satu bank swasta. Menurut Ari, sebaiknya dua calon yang kalah bersikap legowo dalam menghadapi keputusan rakyat yang tidak memilihnya.

"Ini adalah bentuk kekecewaan yang tidak diperkirakan semula. Mereka yakin sekali menang tapi di lapangan hasilnya berbeda," kata Ari yang saat ini menjalani usaha sewa mesin alat berat.

Ari menambahkan, penguasa selalu akan memiliki potensi kemenangan dengan cara berusaha memaksimalkan sumberdaya yang dimiliki untuk menjadi pemenang dalam pilpres. Jika ternyata ditemukan kecurangan-kecurangan di lapangan, belum tentu bisa dibuktikan kebenarannya.

"Bukti yang dibawa dua pasangan lainnya belum terbukti, hanya dugaan saja," nilainya.

Setali tiga uang, Marno (34) seorang supir pribadi menilai pemilu presiden 8 Juli lalu sudah lebih baik dari pilpres 2004. Namun dia tidak menyangka bahwa SBY akan dapat menang mutlak.

"Saya setuju SBY menang, tapi terlalu tinggi angkanya mungkin karena kecurangan," kata warga Kelapa Dua, Depok ini.

Tidak berbeda dengan Marno, Sudargo (31) tidak ingin pemilu diulang karena hanya menimbulkan permasalahan baru yang menambah masyarakat bingung. "Banyak yang nggak puas karena semua ingin menang. Capres yang kalah harus berbesar hati sajalah," paparnya pria yang saat ini sedang menjalani bisnis batubara tersebut.

Pandangan berbeda muncul dari Juan (19), mahasiswa salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. Menurut Juan, Pilpres harus diulang karena SBY tidak mungkin menang mutlak dengan angka diatas 60 persen.

"Jelas itu pasti ada kecurangan, tapi saya tidak tahu persis di mana curangnya," nilainya.

Pemilu kemarin menurutnya penuh dengan intrik politik yang menyebabkan salah satu capres menang mutlak. Hal ini terlihat dari suasana instabilitas politik dan keamanan yang kian memanas akhir-akhir ini.

"Pasti ini ada skenario untuk mengacaukan suasana stabilitas keamanan dan politik saat ini. Lihat saja ada ketua KPK ditangkap, bom Marriot dan kerusuhan di Papua," pungkasnya mahasiswa semester tiga jurusan Hubungan Internasional ini.
(mpr/yid)


Berita Terkait