Alam Papua dan Kendala Penyelenggaraan Pemilu

Alam Papua dan Kendala Penyelenggaraan Pemilu

- detikNews
Jumat, 17 Jul 2009 01:28 WIB
Alam Papua dan Kendala Penyelenggaraan Pemilu
Jakarta - Sungguh tidak mudah menjadi penyelenggara pemilu di provinsi paling timur Indonesia, Papua. Kondisi alam di sana membuat segalanya jadi tidak sederhana. Setiap langkah selalu membutuhkan pengorbanan yang tidak secuil.

Kita di Jawa barangkali hanya mendengar atau membaca dari media bagaimana
penyelenggara pemilu di Papua seringkali terlambat melaksanakan tugas, entah itu pengiriman logistik maupun pelaporan hasil pemilu. Kita yang tak pernah berkunjung ke sana mungkin tidak bisa benar-benar mengerti mengapa begitu sulit dan penuh hambatannya melangsungkan pemilu di Papua.

Detikcom bersama rombongan dari KPU pusat yang dipimpin komisioner Syamsulbahri mendapat kesempatan berkunjung ke Papua pada Senin-Rabu, 13-15 Juli 2009, untuk menyaksikan rekapitulasi manual di tingkat distrik dan kabupaten/kota. Ada sedikit cerita yang bisa dibagi mengenai bagaimana penyelenggara menggelar pemilu di sana dan kendala semacam apa yang mereka hadapi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ditilik dari ketinggian ribuan kaki di pesawat, alam papua menampakkan warna hijau pepohonan dan pegunungan yang sesekali diselingi warna kelabu danau. Titik-titik bangunan hanya kentara di bagian kota seperti Jayapura. Sisanya berupa hutan, gunung, lembah, dan danau.

Dengan kondisi alam semacam ini, transportasi di banyak tempat hanya bisa dilakukan melalui jalur udara. Misalnya di kabupaten Yahukimo, Puncak, Puncak Jaya, Paniai, Dogiai, Jayawijaya, Yalimo, Nduga, Membramo, dan Membramo Raya. Di tempat-tempat itu, perjalanan dari kabupaten ke distrik (setingkat kecamatan di Jawa) hanya bisa dilakukan dengan pesawat atau heli.

Bagi warga setempat, memang ada jalur darat yang bisa dilalui. Namun jalur itu tidak untuk kendaraan bermotor, melainkan harus ditempuh dengan berjalan kaki. Warga sudah terbiasa melakukan perjalanan berhari-hari bahkan berminggu-minggu seperti layaknya pengembara jaman dulu, atau mirip ninja Hatori yang mendaki gunung dan melewati lembah. Perjalanan puluhan kilometer harus ditempuh dalam waktu berhari-hari dengan jalan kaki dan diselingi bermalam di tempat kerabat atau kenalan.

Tentu saja lain persoalannya jika perjalanan itu dimaksudkan untuk mengirim logistik pemilu. Selain butuh cepat, penyelenggara juga tidak mungkin membawa berkotak-kotak surat suara hanya dengan berjalan kaki selama berminggu-minggu. Karena itu solusi satu-satunya adalah dengan menyewa pesawat charter sejenis Cessna yang memang banyak disediakan di Papua.

Namun sewa pesawat pun belum tentu menjamin pengiriman logistik beres dalam
waktu singkat. Cuaca di Papua sangat unpredictable. Pagi cerah, bisa jadi siang sudah mendung dan sore hujan. Papua juga tak mengenal musim. Lain dengan di Jawa yang meski sering ganti mongso namun masih cukup bisa ditebak, di Papua tak ada bulan hujan dan bulan kering. Setiap saat bisa hujan dan bisa panas, tergantung kemauan alam.

Ketika cuaca cerah, pesawat bisa melewati deretan gunung menuju kantor-kantor panitia pemilihan distrik (PPD) dengan relative lancar. Namun yang seringkali jadi kendala adalah ketika pesawat sudah berangkat dan cuaca berubah dengan tiba-tiba. Begitu hampir sampai di distrik, baru disadari bahwa cuaca tidak memungkinkan pendaratan. Kabut tebal menghalangi pemandangan sehingga pesawat tidak berani menerobos pegunungan yang menjulang di kanan kiri.

Dalam kondisi itu, jika pesawat dipaksakan mendarat, bisa jadi tanpa sengaja pilot akan menabrakkan kendaraannya ke gunung di depan setelah sebelumnya sukses melewati celah dua gunung yang cukup sempit. Seperti di film-film, pilot pesawat harus piawai bermanuver di antara celah gunung yang tersusun tidak beraturan jika ingin sukses mengirimkan logistic ke distrik-distrik. Karena itu tidak jarang pesawat yang telah hampir sampai di distrik yang dituju terpaksa balik kanan dan gagal mendarat karena kendala cuaca.

Kesulitan itu masih menyangkut pengiriman logistik dari kabupaten ke distrik. Untuk pengiriman dari distrik ke Panitia Pemungutan Suara (PPS) di desa dan selanjutnya ke TPS, kesulitan lain menghadang. Panitia harus menggotong logistik dari distrik ke PPS dan TPS dengan berjalan kaki karena tiadanya jalur yang bisa dilewati kendaraan bermotor. Dan waktu tempuhnya tak tanggung-tanggung, bisa 2 hari 2 malam! Bisa dibayangkan bagaimana sulit dan rumitnya menyelenggarakan pemilu di Papua.

Untuk daerah yang tergolong mudah saja, seperti di Kabupaten Sarmi, perjalanan darat dari kabupaten Jayapura yang letaknya berbatasan harus dilakukan selama 5 jam yang penuh ‘goyangan’ menggunakan mobil jelajah darat sejenis Ranger dan Strada. Sepanjang perjalanan yang melewati pinggiran Danau Sentani, naik turun jalanan pegunungan, dan menerobos hutan dan semak, mobil harus berjuang untuk berkompromi dengan kondisi jalan yang sebagian besar belum beraspal. Jika hujan jalanan akan berubah licin dan cukup berbahaya mengingat sepanjang jalan banyak terdapat jembatan-jembatan kecil dari kayu yang berderak ketika dilewati mobil.

Semua pengorbanan itu dimaksudkan untuk menjaga hak pemilih yang secara kuantitas tidak signifikan. Satu kabupaten di Papu rata-rata tidak mencapai
lebih dari 50 ribu pemilih, terutama di daerah-daerah sulit. Namun demikian, demokrasi tidak melulu soal kuantitas bukan? Karena itu pengorbanan itu tetaplah berharga dan patut dihargai.


(sho/rdf)


Berita Terkait