ANFREL Foundation: Pilpres di Indonesia Menarik dan Kreatif

ANFREL Foundation: Pilpres di Indonesia Menarik dan Kreatif

- detikNews
Sabtu, 11 Jul 2009 15:13 WIB
ANFREL Foundation: Pilpres di Indonesia Menarik dan Kreatif
Jakarta - Asian Network for Free Elections (ANFREL) Foundation menilai pelaksanaan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2009 yang berlangsung di Indonesia unik dan kreatif meskipun ada sejumlah masalah DPT dan lain-lain.

"Pemilihan umum dan pemilihan presiden di Indonesia lebih kreatif dan menarik. Bahkan tidak ada di dunia, seperti penempatan kotak suara di dalam bus dan becak," kata pemantau ANFREL Foundation dari Thailand, Somsri Hananuntasuk, dalam jumpa persnya di Persekutuan Gereja Indonesia (PGI), Jl Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (11/7/2009).

ANFREL Foundation merupakan pemantau asing yang terdiri Thailand, Jepang, Malaysia, Monggolia, Nepal, Pakistan, Kamboja, Bangladesh dan Pakistan. Sementara yang melakukan pemantauan pilpres kali ini hanya dilakukan lima negara.

Secara umum, ANFREL Foundation menilai penyelenggaraan pilpres berjalan dengan baik, bebas, adil dan damai. Selain itu, partisipasi pemilih di Indonesia masih dianggap relatif tinggi dibandingkan dengan pemilu di beberapa negara lainnya.

Somsri menjelaskan, sebenarnya walau banyak persoalan dalam pelaksanaan Pileg dan Pilpres, namun ada perkembangan positif terkait teknis dan prosedur pemilihan. Misalnya, penghormatan terhadap hak pilih para pasien di rumah sakit dan narapidana di penjara, serta kepada para penyandang cacat.

"Bahkan justru pelaksanan Pileg dan Pilres yang lebih baik dilakukan di penjara. Ini yang paling bagus se-Asia, bagaimana seorang narapidana diberikan hak pilihnya," jelasnya.

Somsri juga menceritakan bagaimana baiknya sistem pencontrengan, yang dinilai sistem baru dalam pemilu di Indonesia, dilakukan di penjara. Para narapidana diperiksa semua jarinya sebelum mengambil surat suara, petugas TPS yang membuka semua surat suara yang asli kepada para saksi.

ANFREL Foundation, lanjut Somsri, juga memantau pelaksanaan kampanye di
Indonesia yang lebih baik di banding negara lainnya. Misalnya, perangkat UU yang mengatur pemilu, khususnya adanya larangan anak-anak dalam kampanye merupakan yang terbaik di negara ASEAN.

"Indonesia punya UU Pemilu yang melarang anak-anak dan siswa sekolah untuk ikut kampanye. Itu sangat bagus di Asia Tenggara, walau memang dalam prakteknya ada juga, tapi setidaknya ada aturan yang melarang itu," ujarnya.

ANFREL Foundation juga memberikan sejumlah rekomendasi atas pelaksanaan Pileg dan Pilres di Indonesia atas berbagai persoalan yang muncul. Di antaranya bagaimana menciptakan suasana kompetisi yang adil di dalam pemilu, pembaharuan data DPT, administrasi yang lebih efisien di TPS, harus ada hubungan yang jelas antara KPU, KPUD, Bawaslu dan Panwaslu, parpol yang harus memberikan pelatihan saksi di TPS dan ditegakkannya aturan larangan anak-anak berkampanye.

(zal/aan)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads