"Jika Golkar merapat, DPR hanya akan jadi tukang stempel. Tidak ada lagi yang merhatiin rakyat kalau presidennya mencla-mencle," kata pengamat hukum tata negara Irman Putra Sidin saat berbincang dengan detikcom, Sabtu (11/7/2009).
Menurut Irman, dalam sebuah sistem presidensial sebenarnya tidak ada yang dinamakan dengan koalisi pemerintahan. Istilah tersebut hanya berlaku untuk sistem parlementer.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang namanya DPR, pasti opsisi," tegasnya.
Ia menambahkan, presiden terpilih nantinya juga harus bersikap negarawan dengan merelakan sebagian kekuatan untuk melakukan check and balance kepada kebijakannya kelak.
"Jangan takut dijatuhkan (impeachment), proses menuju itu sangat rumit. Harus lewat pengkajian konstitusi yang mendalam. Tidak mudah untuk melakukan impeachment itu," pungkasnya.
Seperti diketahui, jika akhirnya Partai Golkar benar merapat ke kubu SBY-Boediono, maka sedikitnya 70 persen kursi DPR akan dikuasai partai pendukung pemerintah. Dengan demikian, jika terjadi voting dalam pengambilan keputusan di DPR, maka usulan pemerintah baik itu legislasi maupun anggaran dipastikan akan lolos dengan mulus.
(lrn/lrn)











































