Ketua DPD II Partai Golkar Sragen yang juga koordinator Forum Golkar Surakarta (Forgas), Agus Fathurrahman, menilai sudah saatnya Golkar saat ini untuk melakukan konsolidasi agar permaslahan internal cepat selesai. Konsolidasi paling efektif, menurutnya, melalui Munas dipercepat atau Munas luar biasa.
Kepemimpinan pusat yang saat ini dinilai Agus tidak produktif. Selain gagal melakukan konsolidasi juga gagal berkoordinasi internal sehingga pengurus di tingkat bawah merasa seperti ayam kehilangan induk. Akibatnya dalam pilkada, pemilu pileg, maupun pilpres Golkar didera kegagalan.
"Kekalahan bertubi-tubi seperti ini akan menimbulkan ketidakpercayaan yang semakin besar dari konstituen kepada Golkar. Akibatnya seluruh jaringan Golkar bisa lumpuh. Ini membahayakan. Golkar harus segera diselamatkan," ujar Agus kepada detikcom, Kamis (9/7/2009).
Hal serupa juga disampaikan oleh Ketua DPD II Partai Golkar Kabupaten Karanganyar, Juliatmono. Juli bahkan mengatakan slogan kampanye JK yang berbunyi 'lebih cepat lebih baik' justru lebih tepat untuk diterapkan untuk menyelamatkan Golkar saat ini dari keterpurukan semakin jauh dengan segera digelar Munaslub.
"Harus segera dilakukan konsolidasi total untuk menatap tantangan ke depan pada 2014 nanti. Konsolidasi itu harus selesai bulan Juli ini. Dengan demikian pada 20 Oktober, saat pelantikan presiden nanti, posisi Golkar sudah harus jelas. Karena itu menurut saya Munaslub itu lebih cepat digelar akan lebih baik," ujar Juliatmono.
Pendapat agak berbeda datang dari Ketua DPD II Partai Golkar Kota Surakarta, Kusraharjo. Dia menyarankan masalah sangat serius seperti itu tidak tepat dibicarakan dalam kondisi sedang kalut akibat kekalahan telak seperti sekarang.
"Saya yakin, semua kader Golkar saat ini sedang lelah lahir maupun batin. Tidak seyogyanya masalah seserius itu dibicarakan dalam kondisi kejiwaan yang kurang baik seperti saat ini. Sebaiknya kita endapkan dulu masalah ini, menunggu waktu yang tepat," ujarnya.
Akbar - Ical
Siapakah yang layak memimpin Golkar lima tahun kedepan? Agus dan Juliatmono menyebut Akbar Tandjung sebagai sosok paling tepat menduduki posisi sebagai ketua dewan penasehat. Kemampuan Akbar juga pengalamannya memimpin Golkar di saat kritis akan sangat berguna untuk memberi masukan bagi ketua umum yang akan datang.
Kusraharjo juga demikian. Menurutnya, Munas dipercepat maupun tidak, Akbar adalah aset mahal Golkar yang harus kembali didudukkan pada posisi depan. "Pak Akbar paling tepat membimbing Golkar ke depan, sebagai sesepu h dan tokoh yang telah teruji kemampuannya," ujar Kusraharjo.
Tentang posisi ketua umum dalam Munaslub, tentu saja Kusraharjo tidak bersedia menyebut. Namun Agus dan Juliatmono menyebut nama Aburizal Bakrie.
"Ada juga Surya Paloh dan Agung Laksono. Yang penting punya komitmen yang jelas bagi masa depan partai," ujar Agus. "Pak Ical sangat memadai. Mungkin juga Pak Paloh. Yang dia harus seorang organisatoris matang dan punya waktu yang khusus digunakan untuk mengurus partai, jangan disambi," kata Juliatmono.
(mbr/djo)











































