Di kantor DPD Partai Golkar Sulawesi Selatan (Sulsel), misalnya. Tidak ada kegiatan yang berarti di tempat tersebut. Padahal pada hari-hari menjelang pencontrengan, kantor DPD Golkar Sulsel itu selalu terlihat ramai. Ketua DPD I Golkar Sulsel yang juga walikota Makassar, Ilham Arif Sirajuddin, kerap terlihat mondar-mandir.
Tapi kini dia lebih banyak mengurung diri di ruangannya, tanpa ditemani oleh fungsionaris Golkar Sulsel lainnya. "Kita sudah berusaha sekuat tenaga memenangkan Pak JK, tapi pilihan masyarakat berkehendak lain," tutur Ilham.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Warung kopi Daeng Anas, Jl Pelita Raya, salah satunya. Di warung ini sejumlah pendukung JK-Wiranto terlihat murung dan bertanya-tanya tentang hasil quick count.
"Saya tidak bisa habis pikir, kenapa kok jagoan kita bisa keok duluan. Yang aneh kenapa di Aceh bisa kalah telak, padahal peran JK di Aceh signifikan," ungkap Rahmad Nadja, pendukung setia JK-Wiranto. Pria ini pernah bernazar ingin menyembelih dua ekor kambing jika JK menang.
Suasana serupa juga terlihat di sekretariat Sahabat Muda JK (SMJK), Jalan Gunung Klabat, Makassar. Mobil-mobil berlabel gambar JK-Wiranto yang terparkir di depan sekretariat SMJK, tinggal satu-dua saja. Padahal biasanya halaman parkir gedung SMJK tak pernah sepi. Demikian pula dengan para pengurus SMJK Makassar. Mereka kompak berpakaian hitam-hitam.
Namun semua itu tidak terjadi di kantor DPD I Partai Demokrat Sulsel. Situasi di tempat ini berbeda 180 derajat. Tempat ini ramai dikunjungi kader dan simpatisan Demokrat. Bahkan pada hari pencontrengan, mereka berkumpul hingga malam hari.
"Mari berlapang dada menerima hasil Pilpres. Inilah kemenangan rakyat Indonesia," pungkas Reza Ali, ketua DPD Demokrat Sulsel yang juga anggota DPR RI terpilih.
(mna/djo)











































