Washington DC berlangsung dengan tertib dan aman. Koresponden detikcom di Washington DC, AS melaporkan pandangan mata seputar perhitungan surat suara.
Perhitungan surat suara diadakan di ruang Presiden gedung KBRI di 2020 Massachussets Avenue, Washington DC. Dimulai pada pukul 8.45pm, dengan laporan dari Ketua KPSPLN, Babang Achiruddin mengenai jumlah surat suara yang dikeluarkan oleh Panitia. Sejumlah 239 pemilih hadir dan menitipkan suaranya langsung di TPS. Jumlah sisa surat suara yang belum terpakai sebanyak 57 dan surat suara yang rusak sebanyak 2 buah.
Perhitungan Surat Suara dilakukan dengan menghadirkan 2 orang saksi dari Partai Demokrat dan 1 orang dari Partai Golkar. Antusiasme masyarakat ditunjukkan dengan ikut hadir di ruang Garuda yang bersebelahan dengan ruang Presiden. Sekitar 40 orang dari berbagai lapisan masyarakat di wilayah Washington DC, Maryland dan Virginia, sebagian besar ikut menyontreng seusai jam kantor, sekaligus meluangkan waktu untuk menanti hasil dari pemilihan presiden yang baru saja berlangsung.
Setelah berjalan sekitar 30 menit, terjadi perhitungan dihentikan dan Panitia memutuskan untuk malakukan perhitungan ulang, karena adanya ketidaksesuaian hasil dari kubu panitia PPLN dan saksi dari partai, dan dari KPPSLN. Perhitungan ulang dimulai pada jam 9.27pm dengan perolehan sementara 14 suara untuk pasangan kandidat Mega-Prabowo, 108 suara untuk SBY-Budiono, dan 11 suara untuk JK- Wiranto.
Perhitungan suara berjalan cukup lancar dan berakhir pada jam 9.39pm waktu
Washington DC, dengan hasil akhir sebanyak 22 suara untuk pasangan Mega-Prabowo (10.2%), 176 suara untuk SBY-Budiono (81.5%) dan JK-Wiranto memperoleh 18 suara (8.3%). Surat suara tidak sah sebanyak 23.
Namun pelaksanaan Pilpres tersebut sempat membuat kecewa warga yang ingin menggunakan hak pilihnya. Termasuk koresponden detikcom di AS Endang Isnaini Saptorini.
Saptorini tiba pukul 2.15 pm di lokasi pencontrengan pilpres. Saptorini belum menerima surat panggilan yang dikatakan oleh panitia sudah dikirimkan melalui pos. Dan apesnya, menurut panitia, surat suaranya juga sudah dikirimkan ke alamat yang sama. Sehingga saat itu koresponden detik harus pulang dengan tangan hampa.
Pukul 6.30 pm, saat area parkir di depan KBRI sudah boleh dipergunakan untuk umum, Saptorini kembali ke KBRI untuk mencoba peluangnya untuk menyontreng. Terlihat kerumunan di lobby KBRI, beberapa orang yang hendak menyontreng pada saat-saat terakhir. Di antaranya adalah mereka yang baru datang dan mendaftar secara langsung di TPS.
Ketika ditanya oleh detikcom, beberapa di antaranya mengaku tidak mendapatkan surat panggilan maupun surat suara melalui pos. Salah satunya adalah tokoh senior masyarakat Indonesia, yang menyatakan bahwa Pemilu kali ini sangat tidak profesional. Pria ini kemudian segera meninggalkan KBRI tanpa menggunakan hak pilihnya. Adapun Ahmad, yang namanya tidak tercantum di dalam daftar pemilih, meskipun sudah pernah mendaftar di sekretariat panitia, akhirnya dapat menggunakan hak pilihnya dengan mendaftar ulang sebagai peserta baru.
Hingga ditutupnya meja nomor satu sebagai tempat registrasi peserta pemilu, jam 7.30pm, Saptorini tetap belum bisa menyalurkan aspirasinya sebagai warganegara untuk menyontreng.
Surat Suara yang dinantinya belum tiba, dan panitia tidak memperbolehkannya menyontreng. Agaknya PPLN ingin kekeuh dengan aturan yang ditetapkan oleh Panitia Pemilu Pusat, yang implementasinya belum tentu bisa diaplikasikan di AS.
(eis/rdf)











































