Kekalahan JK-Wiranto ini terlihat dari berbagai hasil quick count yang dilansir sejumlah lembaga survei, Rabu (8/7/2009). JK-Wiranto berada di urutan paling buncit dengan perolehan suara sekitar 12-13 persen. Posisi pertama ditempati SBY-Boediono dengan perolehan suara sekitar 60% dan posisi kedua ditempati Megawati-Prabowo dengan perolehan suara 27%.
Kekalahan telak JK-Wiranto tentunya menimbulkan tanya. Sebab sejak awal kampanye, pasangan yang berjargon lebih cepat lebih baik dan didukung Partai Golkar, Hanura, PKNU, Barnas, dan PDK ini sangat intensif mendekati sejumlah tokoh-tokoh ormas agama. Ketua Umum Nahdlatul Ulama (NU) Hasyim Muzadi dan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin bahkan secara terbuka menyatakan dukungan terhadap pasangan nusantara ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan adanya dukungan dari sejumlah ormas, seperti NU, Muhammadiyah, Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT), serta ormas kepemudaan, perolehan sura JK-Wiranto diperkirakan bakal mengalami peningkatan hingga 12%. Sehingga pasangan tersebut mampu mendulang paling tidak 30%. Sehingga bisa memaksa pasangan SBY-Boediono bermain dalam 2 putaran di pilpres.
Tapi ternyata prediksi itu hanya hitung-hitungan di atas kertas. Kenyataannya, JK-Wiranto justru kehilangan sampai 7% dari modal suara yang mereka miliki sebelumnya.
Pengamat politik dari Indo Barometer Muhammad Qodari saat dihubungi detikcom mengatakan, problem utama yang dihadapi JK-Wiranto di pilpres kali ini adalah waktu dan konsolidasi di internal partai Golkar.
Diakui Qodari, pendekatan yang dilakukan JK-Wiranto terhadap sejumlah ormas sebenarnya sudah cukup baik. Terbukti sejumlah tokoh ormas menyatakan dukungan kepada pasangan itu.
Hanya saja, kata Qodari, karena keterbatasan waktu, dukungan elit ormas tersebut belum sampai ke tingkat massa. "Kalau pilpres ini diselenggarakan 6 bulan lagi, saya kira perolehan suara JK-Wiranto tidak seperti ini," ujar Qodari.
Persoalan lainnya, sejak reformasi di masyarakat sudah terjadi fenomena otonomi relatif pemilih. Maksudnya, pemilih saat ini sudah semakin otonom. "Ikatan pemilih terhadap kiai atau ulama dalam hal pilihan politik sekarang semakin melemah," kata dia.
Sebagian massa ormas Islam saat ini, beber Qodari, cenderung menjadikan referensi untuk menentukan pilihan politik berdasarkan yang mereka lihat di televisi. "Dan intensitas iklan JK-Wiranto di televisi jelas-jelas kalah dengan SBY," ujar Qodari.
(ddg/asy)










































