Sumber detikcom di Partai Golkar, Rabu (8/7/2009), sebenarnya pendukung JK sudah menduga ada penggembosan di tubuh Golkar agar tidak mendukung JK dalam Pilpres 2009. Bahkan, gerakan penggembosan ini sudah dilakukan hingga daerah-daerah
"Sudah ada 400 DPD II Golkar yang digerilya dan dibantu sejumlah uang. Memang penggembosan terhadap JK hanya tujuan antara, karena tujuan utamanya lebih pada Munas Golkar dipercepat atau Munaslub Golkar," ujar dia. Dengan gerilya terhadap 400 DPD Golkar ini, maka hanya sekitar 150 DPD II Golkar yang masih dikendalikan JK.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menyambut Pilpres 2009, dengan gerilya ini, maka 400 DPD II Golkar itu praktis tidak melakukan upaya maksimal untuk memenangkan JK-Wiranto. Mereka memang tidak mengupayakan kemenangan capres-cawapres lain. "Mereka hanya pasif, tidak melakukan apa pun," ujar dia.
Salah seorang tim sukses JK-Wiranto sempat mencium gelagat tidak jalannya mesin Golkar di daerah saat ikut berkampanye. "Yang saya lihat, tim yang bergerak di daerah malah Hanura. Sedangkan pengurus Golkar tidak terlihat," kata dia.
Informasi yang didapat detikcom, skenario Munas setelah JK kalah di Pilpres 2009 akan segera dilakukan. Rencananya sebelum Munas akan digelar terlebih dulu Rakernas yang akan digelar pertengahan Juli 2009. "Rakernas sukses, Munas akan digelar akhir Juli," ujar dia.
Ada dua skenario Munas yang akan dilakukan. Pertama, Munas dipercepat. Ini akan dilakukan bila JK sebagai ketua umum Golkar mendukung upaya ini. Seharusnya Munas akan dilakukan pada Oktober 2009. Kedua, Munas Luar Biasa (Munaslub). Munaslub terpaksa dilakukan apabila JK menolak untuk segera dilakukan Munas. "Munaslub sangat gampang, karena 400 DPD II Golkar sudah setuju," jelas mantan Ketua DPD Golkar provinsi besar itu.
Munas dipaksakan dipercepat karena terkait penyusunan kabinet SBY-Boediono. Ada keinginan dari sejumlah pimpinan Golkar untuk membawa parpol bergambar pohon beringin itu merapat ke SBY-Boediono dan meninggalkan koalisi besar. "Koalisi dengan SBY-Boediono masih ada kesempatan," ujar politisi itu.
(asy/gah)











































