Puluhan nama ganda ditemukan di dua TPS yang dikunjungi Bawaslu, Rabu (8/7/2009).
Di TPS 047 dengan total DPT 716 pemilih misalnya, banyak nama pemilih ganda ditemukan. Dalam DPT, nama Sumini tertulis empat kali secara berurutan dan nama Supriyanto juga tercetak dua kali, semuanya dengan Nomor Induk Kependudukan (NIK) yang berbeda.
Sementara di TPS 059 dengan total DPT 325 pemilih, yang hanya berjarak sekitar 10 meter dari TPS 047, lebih banyak lagi nama ganda yang ditemukan. Banyak nama seperti Suparti, Suparyati, Suprapto tertulis dobel dengan NIK yang berbeda-beda.
Mengenai hal tersebut, Ketua KPPS Edi Darwoto, berdalih DPT yang dipampang baru saja diterima dari KPU Pusat.
"DPT yang kita terima sejak awal yang dibagi sudah dikoreksi dan dicoret satu-satu. Tapi yang itu (dipampang) baru diterima dari KPU tadi pagi jadi belum sempet dicoret,"Β kata Edi di lokasi TPS 059 Kelurahan dan Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara.
Sementara anggota Bawaslu, Bambang Eka Cahya mengatakan banyaknya
nama-nama ganda yang tidak dicoret memang mencurigakan.
"Prinsipnya ya begitu, banyaknya nama ganda dalam DPT memang
mencurigakan," ujar dia.
Dikatakan dia, TPS-TPS yang ditinjau oleh Bawaslu memang sengaja dipilih pada wilayah yang rawan masalah.
"Pemilihan tinjauan didasarkan pada TPS yang rawan. Di daerah padat penduduk yang potensial tidak bisa memilih dan potensial dobel-dobel. Seperti bandara yang mobilitasnya tinggi dan banyak orang lalu lalang, Pluit (Penjaringan) yang padat penduduk dan daerah konsen TKI, dan Trisakti karena banyak kos-kosan yang seringkali banyak yang tidak terdaftar," papar Bambang.
(nvc/aan)











































