"Yang Golkar-nya juga kuat, seperti di Sumsel, Riau, Kepri, dan Sulteng di sana JK kalah telak dari SBY," ujar Direktur Lembaga Survei Indonesia (LSI) Saiful Mujani di Studio 1 Transcrop Jl Kapten Tendean, Jakarta, Rabu (8/7/2009).
Menurut Saiful, kekalahan JK karena dia tidak mengakar di kalangan masyarakat Golkar. Selama menjabat sebagai ketua umum Golkar, JK lebih banyak memfokuskan diri di pemerintahan.
"JK sebagai pemimpin Golkar tidak terlalu berakar dan JK tahu itu. Selama lima tahun ini dia dedikasikan dirinya untuk pemerintahan karena dia kan inginnya berlanjut. Keputusan nyalon itu kan baru akhir-akhir," urai dia.
Data dari LSI, di Sulsel JK-Wiranto masih unggul dengan perolehan suara 64,35 persen. Sedangkan di Sulsel SBY-Boediono memperoleh 32,06 persen dan Mega-Prabowo 3,59 persen.
Namun di tempat lain, Sumsel misalnya JK-Wiranto kalah telak dan hanya memperoleh suara 12,60 persen. SBY melesat jauh dengan 60,84 persen. Sedangkan Mega-Prabowo 26,57 persen.
Di basis Golkar lainnya yakni Riau dan Kepri JK-Wiranto hanya memperoleh 12,43 persen. Sedangkan SBY-Boediono jauh di atasnya dengan suara 65,97 persen. Sementara Mega 21,60 persen. (nik/iy)











































