"Saya kira memang telah terjadi kesenjangan antara massa Golkar dengan elit yang ada saat ini. Sehingga hasil dukungan JK-Wiranto tidak mencermikan perolehan suara Golkar dan Hanura. Ini akibat massa politik yang cair sekali dan mesin partai tak beralasan," kata pengamat politik M Alfan Alfian kepada detikcom, Rabu (8/7/2009).
Menurut Direktur Riset dan Publikasi Akbar Tandjung Institute ini, kekalahan pasangan JK-Wiranto yang didukung Golkar membuktikan bahwa soliditas elit Golkar juga berpengaruh terhadap kekalahan pasangan nomor urut 3 ini. Selain itu, posisi pencapresan JK yang dipaksakan juga menjadi faktor mesin Golkar dan kader Golkar tak sepenuh hati mendukung JK.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti diberitakan sebelumnya, pasangan SBY-Boediono sesuai hasil hitung cepat diprediksi akan menang satu putaran karena perolehannya mencapai 50 persen lebih di semua lembaga survei. Pasangan SBY-Boediono meninggalkan lawannya dengan mulus. Pasangan JK-Wiranto yang diduga akan masuk putaran kedua justru berada dalam posisi terbuncit dengan perkiraan perolehan suara antara 13-20 persen.
Misalnya, hasil quick count dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) mencatat perolehan pasangan SBY-Boediono sampai pada sampel 70 persen mencapai angka 60,30 persen. Sementara pasangan Megawati-Prabowo memperoleh angka 26,35 persen dan pasangan JK-Wiranto 13,36 persen.
Sementara Lembaga Riset Informasi (LRI) pimpinan Johan Silalahi yang diduga lebih dekat kepada JK mencatat 58,50 persen untuk pasangan SBY-Boediono. Sementara pasangan Megawati-Prabowo memperoleh angka 25,95 persen dan pasangan JK-Wiranto 15,55 persen. (yid/nrl)











































