"Itu membahayakan karena bisa menggiring pemilih, padahal pencontrengan belum selesai," ujar Direktur LRI, Johan Silalahi di Markas kemenangan JK-Wiranto, Jl Ki Mangun Sarkoro, Rabu (8/7/2009).
Menurut Johan, exit poll tersebut sama saja dengan survei dan bisa diatur. Harusnya jika ingin diumumkan hasilnya, setelah semua responden diwawancarai.
"Kalau respondennya 2.100, harusnya setelah semua responden itu diumumkan, itu sah-sah saja. Baru diumumkan. Hasil exit poll MetroTV belum selesai, malah data yang masuk 3-6 persen. Itu tidak ilmiah dan tidak etis," imbuh Johan.
Lebih lanjut dia menerangkan exit poll bisa saja dimanipulasi dengan yang masuk duluan adalah suara-suara dari capres tertentu. Bahkan bisa saja pemilih yang keluar diwawancarai nyontreng capres A tapi ngakunya capres B.
Dia minta agar exit poll ini segera dihentikan. "Seandainya pun JK yang memenangkan kami tetap menuntut itu dihentikan. Karena bahaya," pungkasnya.
(anw/nrl)











































