Yayasan yang bergerak di bidang beasiswa anak-anak di lingkungan kumuh perkotaan itu menuduh nomor kantornya dicatut.
"Kita nggak tahu Suara Nurani apa? Kantor kita ditelepon sejak pagi, dimaki-maki. Kita terganggu jadi teman-teman rada malas angkat teleponnya," tutur Lis, pimpinan pelaksana Yayasan Aulia kepada detikcom, Selasa (7/7/2009).
Lis menjelaskan, selebaran Suara Nurani beralamat berbeda dengan kantor Yayasan Aulia. Suara Nurani beralamat di Jl Sunter Mas Tengah II Blok G/7 Jakut. Sedangkan Yayasan Aulia beralamat di Jl Sunter Mas Tengah H Blok G/6 Jakut.
Karena itu, Lis menegaskan, selebaran itu merupakan black campaign yang dilakukan pihak-pihak tertentu.
"Kantor Suara Nurani itu rumah biasa. Saya pikir itu kan black campaign, nggak mungkin menyebarkan dengan alamat yang jelas," kata Lis.
Lis juga membantah kegiatan kantornya berkaitan dengan politik. "Kebetulan yang jadi korbannya kita. Kita nggak berafiliasi dengan agama dengan politik," tandasnya.
Selebaran Suara Nurani beredar di TB Simatupang, Jakarta Selatan. Cover selebaran dari tabloid itu memuat 8 alasan tidak memilih pasangan SBY-Boediono.
(nik/iy)











































