"Email itu palsu, tidak benar, dan menyesatkan," kata Andi dalam pesan singkatnya yang diterima, Minggu (5/7/2009).
Surat elektronik yang menyebar dengan identitas Andi Mallarangeng itu antara lain menuliskan 'Mau kapatalis, sosialis, atau neolib sekalipun, mereka tidak akan pedulikan. Yang penting mereka puas dengan penampilan si kandidat. Dan kandidat itu adalah SBY-Boediono. Jadi, kejadian saya di Makassar kemarin itu tidak usah dipikir terlalu berat, itu hanya sebuah eksperimen kecil saya untuk melihat apakah isu berbau SARA masih mendapat tempat di masyarakat kita?'
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam email panjang yang ditujukan kepada seseorang beridentitas Muchlis Hasyim dan dikirimkan pada 3 Juli 2009 itu, orang yang mengaku Andi menulis, '...Sejak negara ini berdiri, semua presiden yang naik itu karena kecelakaan sejarah. Bung Karno diangkat menjadi presiden, karena Jepang kalah dari sekutu dan terjadi vacuum of power pada masa itu. Soeharto naik juga akibat kecelakaan sejarah yaitu terjadinya peristiwa 65. Nah yang lucu, setelah itu kecelakaan sejarahnya semakin ngaco. Reformasi bergulir tahun 98, menghasilkan presiden yang buta. Presiden buta dijatuhkan, naik pulalah perempuan bisu. Kalau politik aliran memang belum mati, sudah pasti Mega atau Habibie jadi. Lagipula kalau memang ada politik aliran maka alirannya pasti jawa, laki-laki, militer dan islam. Non jawa seperti saya dan teman-teman ini kan sudah memang tempatnya jadi king maker saja, lebih enak ndak repot tapi kebagian serunya toh. Makanya SBY berbeda, dia muncul by design yang matang lewat pemilihan langsung'.
Andi menuturkan, email itu merupakan kampanye hitam. "Apa yang dianggap penipuan dan pemalsuan juga di dunia nyata juga adalah penipuan dan pemalsuan di dunia maya. Apa yang dianggap black campaign di dunia nyata juga dianggap black campaign di dunia maya," tandas Andi.
Andi yang juga juru bicara kepresidenan ini juga meminta mereka yang menggunakan nama dia di Facebook yang jumlahnya ada belasan, untuk menghentikannya.
"Karena itu tidak benar, masyarakat pengguna internet harus waspada dengan orang-orang yang menggunakan nama saya untuk kepentingan apa pun, terutama yang bernuansa politik. Begitu juga dalam bentuk telepon dan SMS. Pilihan politik boleh berbeda, tetapi kita bersaudara," tutup Andi.
(ndr/nrl)











































