Mereka yang mengikuti simulasi ini tampak sangat antusias menjalani tahap demi tahap simulasi.
"Mudah Mas, gampang banget. Saya jadi tahu kalau ternyata nyotreng itu gampang," ujar Suryo Pramono (27), salah satu penyandang tunanetra kepada wartawan.
"Jika dibandingkan Pemilu 2004, ini lebih gampang karena ada simulasi," katanya lagi.
Simulasi dilakukan menggunakan template braille. Pertama-tama, ketika tunanetra dipanggil oleh petugas KPPS, surat suara yang diterima akan dimasukkan ke dalam template.
Dalam template tersebut dilengkapi dengan tulisan braille yang memungkinkan para tunanetra membaca nomor dan huruf yang tertera dalam surat suara.
Dalam template braille itu ada lubang berbentuk segitiga yang ada di kolom masing-masing pasangan capres. Di lubang itulah para tunanetra akan melakukan pencontrengan.
Tak hanya simulasi mencontreng, para tunanetra juga diajari cara melipat surat suara agar kerahasiaannya terjamin.
Kordinator simulasi, Rianti Ekowati, yang juga penyandang tunanetra ini, mengatakan, simulasi dilakukan untuk membantu para tunanetra yang akan menyalurkan hak pilihnya.
"Tunanetra juga punya hak yang sama dalam pemilu. Oleh karena itu kerahasiaannnya harus terjamin. Jadi mulai dari proses dia masuk ke TPS dibantu, tapi di dalam TPS ditinggal dan ketika keluar baru didampingi lagi," pungkas Rianti.
(Rez/nrl)










































