"Jumlah penduduk kita 232 juta. DPT kita 176 juta. Kalau ada 49 juta yang belum terdaftar berarti pemilih berjumlah 220-an juta. Bayi-bayi kecil pun akan menjadi pemilih," kata Ketua KPU Abdul Hafiz Anshary di Kantor KPU, Jl Imam Bonjol, Jakarta Pusat, Jumat (3/7/2009).
Hafiz menegaskan, KPU sudah berupaya maksimal menangani DPT. Setelah DPT dirundung berbagai masalah pada pileg lalu, 90 persen perhatian KPU dicurahkan untuk menyempurnakan penyusunan DPT.
Karena itu, KPU tidak percaya masih ada 49 juta pemilih yang tercecer. Meski begitu, Hafiz juga mengakui bahwa masih ada pemilih yang belum terdaftar. Hanya saja jumlahnya tidak sefantastis itu. "Bahwa ada yang tercecer itu kita akui," kata Hafiz.
Lebih jauh, Hafiz meminta kepada anggota FPDIP Eva Kusuma Sundari yang mengungkapkan persoalan 49 juta pemilih tercecer tersebut agar jangan asal ngomong. Dia menuntut Eva mengajukan bukti jika memang pernyataannya benar.
"Kita minta selambat-lambatnya besok untuk menyerahkan datanya jika itu benar. Kita siap membuatkan logistik. Dalam 2 hari bisa selesai. Tapi kalau tidak benar berarti dia melakukan pembohongan publik. Kalau itu semua benar buktikan, jangan hanya ngomong," cecar Hafiz.
Hafiz juga menyinggung persoalan DPT di pileg. Sejauh ini, kata Hafiz, tidak ada satu pun pihak yang sanggup memberikan bukti adanya kecurangan DPT di pileg lalu.
Hafiz menambahkan, jika tudingan Eva tidak benar, KPU tidak akan melakukan tindakan apapun. "Kalau itu tidak benar, kalian semua yang menilai. Kita tidak akan melakukan tindakan apa pun. Kita nggak ingin punya musuh," tandas Hafiz.
Pada Rabu, 1 Juni lalu, Eva mengungkapkan bahwa sebanyak 49 juta pemilih tercecer. Menurutnya data itu dia peroleh dari Bawaslu dan laporan dari daerah-daerah.
(sho/aan)










































