Pantauan detikcom, Rabu (1/7/2009), dukungan ini terlihat dari selebaran yang dibagikan pada pesantren-pesantren se-Jatim. Dalam selebaran itu tertulis keputusan para ulama pengasuh ponpes dan tokoh NU Jatim tentang kepemimpinan nasional.
Selebaran berisi 6 poin. Dukungan kepada JK-Wiranto tertulis pada poin ketiga. Pemimpin nasional lebih bagus punya kesamaan ideologis dengan NU dan kader NU.
Isi selebaran pada poin ketiga yakni para ulama-masyayich pengasuh ponpes dan tokoh NU sepakat memilih pemimpin harus didasarkan pada tujuan kemaslahatan umat dan musti dipertanggungjawabkan baik di dunia maupun kelak di hadapan Allah SWT. Oleh karenanya maka pemimpin yang wajib kita pilih adalah pemimpin yang mempunyai kesamaan ideologis itu Islam Aswaja dan kader NU (tidak hanya kesamaan agama).
Pada poin keempat selebaran ini jelas-jelas menyarankan warga NU untuk memilih JK-Wiranto. Isi jelasnya yakni setelah mendapatkan infomasi yang cukup dari berbagai sumber yang dapat dipercaya tentang profil capres RI 2009-2014 yang akan dipilih 8 Juli 2009 satu-satunya kader NU adalah Bapak HM Jusuf Kalla yang sekarang ini masih aktif sebagai mustasyar pengurus wilayah NU Sulsel berpasangan dengan Wiranto.
Pada poin kelima selebaran berisi para ulama dan tokoh NU Jatim sepakat untuk memilih dan mendukung serta memenangkan pasangan capres-cawapres HM Jusuf Kalla dan Wiranto (nomor 3) pada Pilpres 8 Juli 2009 yang akan datang.
Poin ke 6 berisi para ulama dan pengasuh Ponpes dan tokoh NU se-Jatim menyerukan kepada seluruh umat Islam se-Jatim khususnya warga NU agar bersatu mengikuti langkah ulama demi keutuhan NU dan demi keselamatan akidah Islam Aswaja NKRI tercinta serta meningkatkan maslahatul ammah.
Selebaran ditandatangani di Surabaya 22 Mei 2009 oleh 20 ulama. Ulama itu antara lain ulama Jember KH Muchid Muzadi, ulama Kediri KH Zainudin Jazuli, ulama dari Tuban KH Abdullah Faqih, ulama dari Ponpes Lirboyo, Kediri KH Anwar Mansyur dan ulama dari Kediri Nurul Hilda Jazuli.
(nik/nrl)










































