"Dulu dana kampanye Pilpres tahun 2004 lebih besar dari Pak JK. Dulu uang saudagar dipakai untuk kampanye, sekarang lupa, kampanye jelek-jelekkan saudagar," kata anggota tim sukses JK, Indra J Piliang.
Hal ini disampaikan Indra dalam dialog publik bertajuk 'Benarkah Mereka Membawa Perubahan?' di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (30/6/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pemerintah tanpa JK menjadi sakit-sakitan, tanpa JK tidak bisa dilanjutkan," ujar Indra.
Indra kemudian mengkritik kebijakan-kebijakan SBY yang membuat JK meninggalkan SBY dan memilih berduet bersama Wiranto dalam pilpres 8 Juli nanti. Menurutnya, kebijakan SBY sangat liberal.
"SBY lebih menghormati uang yang berputar di pasar modal ketimbang uang berputar di pasar tradisional, ini ciri liberalisme," kata Indra.
Indra menilai SBY sudah salah memilih cawapresnya. Peran JK dalam pemerintahan, menurut Indra, tidak tergantikan.
"Komunitas bawah yang dekat dengan Pak JK tidak dapat tersentuh doktor sekelas Boediono," pamernya.
Menurut Indra, Boediono tidak memahami mekanisme ekonomi kerakyatan sehingga lebih baik menjadi Gubernur BI saja. Perubahan yang dijanjikan SBY-Boediono juga diragukan.
"Kalau Boediono melepas jabatan di bank sentral hanya untuk menjadi wakil presiden yang hanya berfungsi sebagai pembantu, lebih baik menjadi Gubernur BI, menguasai sektor riil," tukas Indra.
"Kalau mau perubahan ya jangan dilanjutkan, mana ada perubahan status quo. Melanjutkan apa yang terjadi sekarang tentu hanya akan sama saja. Kalau kita lanjutkan supaya lebih cepat lebih baik," tegasnya.
(van/nwk)











































