"Pada tahun ini, dalam puncak momentum pilpres, kita sedang ditimpa derasnya sindrom Berlusconi," kata pengamat media Undip Semarang, Triyono Lukmantoro, dalam diskusi di Ruang Serba Guna DPRD Jateng, Jl. Pahlawan Semarang, Selasa (30/6/2009).
Triyono tak menunjuk siapapun. Namun dia mengatakan, saat ini ada pengusaha media yang juga pebisnis berstatus sebagai tokoh politik dan dekat dengan capres-cawapres tertentu.
"Memang tak terlalu vulgar, tapi terasa. Terutama terkait pemberitaan," jelasnya.
Triyono menambahkan dampak sindrom itu adalah peliputan berlebihan terhadap capres-cawapres yang didukungnya. Dan sebaliknya, memberitakan pasangan lain dengan agak negatif.
Dosen Fisip Undip ini berharap masyarakat mencermati fenomena itu agar tidak 'terprovokasi' oleh media yang cenderung berpihak kepada capres-cawapres tertentu.
Berlusconi adalah perdana menteri Italia yang mempunyai sejumlah media dan perusahaan. Dia dianggap sebagai contoh nyata bersatunya kekuatan modal, media, dan politik.
(try/djo)











































