"Bila ada anaknya yang cerdas, tegas, dan berani mengambil keputusan cepat, seharusnya justru harus bersyukur mendapatkan wakil presiden yang tidak asal bapak senang dan membungkus halus kepura-purannya dihadapan presiden karena ingin dinilai patuh. Padahal sebenarnya takut kalau hilang jabatannya," kata Jubir JK-Wiranto, Soehandojo, kepada detikcom lewat pesan singkatnya, Selasa (30/6/2009).
Soehandojo menambahkan, sikap JK mengritik Boediono menunjukan kepribadian yang lugas dalam bicara, tegas dalam bertindak sebagai pemimpin.
"Dan ini wujud ekspresi yang membuang jauh-jauh perilaku budaya kepura-puraan dan kebohongan publik," lanjutnya.
Sikap kepribadian JK yang terbuka harus dimaknai dengan positive thinking dan tidak dengan apriori sehingga dinilai ada keberpihakan.
"Apa yang dilakukan Pak JK sebenarnya merupakan penjelasan tentang hal yang aktual bahwa ternyata tidak mudah merealisasikan program
pembangunan yang berpihak dan bermanfaat pada rakyat, akibat masih membudayanya cara berfikir pemimpin tidak cepat mengambil keputusan," pungkas mantan Kapuspenkum Kejagung ini.
Dalam kampanye di Balikpapan, Minggu 28 Juni, SBY menganggap JK tidak etis menyusul sikapnya terhadap Boediono, cawapres SBY, yang dituding menghambat proyek pembangunan listrik 10 ribu megawatt saat menjadi Gubernur Bank Indonesia (BI).
"Ketika ada saran dari menteri tertentu dan dibuka ke publik ini tidaklah etis, ini persoalan internal. Tidak boleh dinamika itu dinilai sebagai kejelekan sebagai hal-hal yang tidak tepat para menteri kabinet juga ingin berbuat baik," kata dia waktu itu.
Tudingan SBY itu merespon "curhat" JK dalam kampanye di tempat yang sama sehari sebelumnya, yang mengaku memarahi Boediono terkait proyek listrik 10 ribu megawatt. (Rez/irw)











































