"Kalau kita lihat pasangan lain di jalan-jalan protokol balihonya sangat besar dan banyak, sampai saingan sama tiang listrik dan membuat kita minder. Pertanyaannya dari mana duitnya?" kata Prabowo saat memberikan sambutan di depan ratusan Masyarakat Transportasi Angkutan Umum Indonesia di Grand Mangardja, Jl Perintis Kemerdekaan, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Senin (29/6/2009).
Menurut mantan Pangkostrad ini, kemungkinan asal dana pengadaan baliho-baliho besar tersebut datang dari dua sumber. Pertama dari uang rakyat yang dikorupsi, dan kedua dari uang maling yang senang mengambil uang rakyat.
"Karena maling-maling itu sangat suka dengan keadaan saat sekarang. Suka menghisap kekayaan dari sistem yang ada saat ini," jelasnya.
Prabowo menambahkan, menjelang pilpres yang semakin dekat, ia mengkhawatirkan banyaknya kesalahan-kesalahan dalam penyelenggaraan pemilu seperti masalah DPT dan beberapa kemungkinan pelanggaran lainnya.
"KPU sepertinya tidak nampak independen. Jumlah pemilih katanya bertambah tapi TPS kok dikurangi? Kita berharap pemilu nanti tidak berakhir seperti Iran. Saya tidak bisa bayangkan jika nelayan, buruh, dan masyarakat Organda turun," imbuhnya.
Baginya, pilpres nanti harus membawa perubahan, bukam mempertahankan yang ada saat ini. Walau dengan dana terbatas, ia yakin rakyat akan mendukungnya hingga menang.
"Biar kita tidak punya dana, tidak bisa membuat baliho-baliho indah. Kita cukup dengan semangat perubahan. Perubahan sistem ekonomi yang lebih baik," pungkas Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra ini.
(ape/sho)











































