"Sebaiknya dua pihak berhenti mengeksploitasi isu agama ini. Itu sudah jadi bahan percakapan yang sebetulnya memperburuk suasana demokrasi yang sebentar lagi kita sempurnakan lewat Pilpres," ujar pengamat politik Universitas Indonesia (UI) Rocky Gerung ketika dihubungi detikcom, Senin (29/6/2009).
Rocky mengatakan isu agama ini menginginkan pembuktian faktual dan pengukuran yang jelas. Padahal agama itu tidak bisa diukur.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menambahkan isu agama ini bisa efektif bagi orang-orang yang diuntungkan. Namun hal ini kontraproduktif bagi politik yang berpihak ke demokrasi. Lebih dari itu, isu agama juga tidak akan efektif mempengaruhi massa.
"Kalau kita lihat misalnya hasil survei, agama faktor yang hampir tidak signifikan. Kalau secara statistika tidak signifikan buat apa angkat isu agama. Tak akan mempengaruhi pikiran publik, yang terpengaruh paling 3 sampai 4 persen," jelasnya.
Jika dibiarkan berlanjut, maka isu agama ini akan merugikan semua pihak yang terlibat di dalamnya. Para tim sukses diminta berpikir dewasa dalam kampanye Pilpres ini.
"Para kontestan tim suksesnya belum cukup dewasa untuk menjaga demokrasi dalam suasana konstitusional, bukan dalam suasana yang primordial. Tutup bukulah (isu agama). Agar orang melihat elit politik di Jakarta menyajikan pertengkaran politik kontekstual, bukan pertengkaran ritual," tandas pengajar filsafat Fakultas Ilmu Budaya UI ini.
(nwk/iy)











































