"Bagian kedua (dari pidato saya) masih persoalan serba-serbi, betapa dinamisnya menjalankan politik LN. Sejak saya sebelum menjadi presiden," kata SBY di hotel Gran Senyiur, Balikpapan, Minggu (28/6/2009).
Lalu SBY bercerita tentang pelanggaran HAM di Timor-timur, pemberantasan korupsi, hingga embargo senjata. Untuk urusan Timor-timur, ia katakan bahwa dirinya yang menginginkan kasus itu tidak dibawa ke pengadilan internasional.
"Saya yang berdiri paling depan untuk menyelesaikan sendiri. Dan ternyata kita mampu tanpa harus didikte oleh negara lain," tandas SBY disambut gemuruh tepuk tangan.
Untuk masalah korupsi, dalam pertemuan APEC di Chili 2 bulan setelah ia menjabat sebagai Presiden. Ia diapit pemimpin dari Hongkong dan Singapura.
"Ndilalah yang disuruh berbicara dari Singapura dan Hong Kong yang duduk di samping saya. Rasanya saya seperti duduk di bara api. (Karena) Waktu itu, Indonesia sedang disorot dunia karena menempati posisi kelima terkorup di dunia," paparnya bercerita.
Lalu, ia bertanya kepada kedua negara tersebut seberapa lama untuk membangun sistem anti korupsi. Dijawab baik oleh Hongkong maupunΒ Singapura di atas 13 tahun.
"Indonesia bisa 15 tahun atau lebih. Karena begitu besar kompleks dan luas. Setelah saya pulang, saya membuat percepatan pemberantasan korupsi. Dan sekarang menjadi 55 terkorup dari bawah," tegasnya.
Pertemuan yang berlangsung sekitar 2 jam tersebut berlangsung santai. Seluruh peserta silaturahmi tersebut dijamu makan malam terlebih dahulu. Serta musik tradisional dan tari khas Kalimantan. Tidak luput memperoleh sejumlah buku tentang kepemimpinan ala SBY.
(Ari/mok)











































