Sudah Saatnya Mantan Caleg Dilibatkan

Popularitas SBY Turun

Sudah Saatnya Mantan Caleg Dilibatkan

- detikNews
Minggu, 28 Jun 2009 07:06 WIB
Sudah Saatnya Mantan Caleg Dilibatkan
Jakarta - Terpaan isu negatif dan kampanye hitam yang semakin kencang merupakan ancaman serius bagi SBY-Boediono di hari-H Pilpres 2009. Indikasinya adalah terus menurunnya popularitas pasangan yang diunggulkan itu dalam berbagai hasil jajak pendapat.

Belum terlambat bagi tim pemenangan mengubah stategi dan taktik pertempuran di waktu tersisa. Yaitu mengerahkan semua potensi sumber daya yang selama ini seolah diabaikan.

"Para caleg  tidak terpilih dari 24 parpol koalisi bisa dikerahkan kok. Jumlahnya ada ratusan dan masing-masing sudah punya jaringan di daerah" ujar seorang caleg tidak terpilih dari Partai Demokrat (PD) kepada detikcom, Minggu (28/6/2009).

Selama ini banyak mantan caleg Pemilu 2009 tidak menjadi bagian dari tim pemenangan SBY-Boediono, baik tim yang resmi maupun sayap-sayap organisasi. Jangankan caleg dari parpol koalisi, caleg dari PD yang sempat terlibat dalam rapat-rapat awal pembentukan tim pemenangan daerah mendadak tidak lagi diikutsertakan.

Namun atas nama loyalitas, mereka secara sadar sukarela melakukan berbagai sosialiasi. Tapi karena tidak adanya jalur koordinasi yang jelas, aksi-aksi pemenangan berjalan sporadis dan tidak maksimal bahkan lebih untuk menjaga kredilitas si mantan caleg di mata konstituen.

"Seperti soal isu istri Pak Boediono nonmuslim dan negara Islam-nya PKS itu, konstituen tanya ke saya. Ada perubahan peta dukungan di daerah, mereka juga lapornya ke saya. Mosok yo dicuekin?" paparnya.

Merujuk pengalaman tersebut, terlihat potensi caleg tidak terpilih sangat besar. Karena sehari-hari kontak langsung dengan masyarakat, mereka sangat efektif  memberikan penjelasan bahkan menangkis berbagai isu negatif yang terus berdatangan.

Masalahnya baik tim pemenangan pimpinan Hatta Rajasa lebih condong ke tim-tim sayap yang tidak semuanya bekerja sungguh-sungguh. Sementara pihak Fox Indoensia, konsultan pencitraan untuk SBY-Boediono lebih percaya pada peran media televisi untuk urusan sosialisasi.

"Mungkin untuk di perkotaan itu efektif, tapi tidak di daerah-daerah. Di sana tidak ada koran, televisi pun lebih untuk nonton sinetron. Mereka juga tidak paham 'bahasa tinggi' dalam perdebatan. Di situ mantan caleg bisa berperan," sambungnya.
(lh/anw)


Berita Terkait